Senin, 5 Mei, seorang kawan mengabarkan pada saya bahwa semua judul skripsi yang tak berkaitan dengan pendidikan atau penelitian tindakan kelas.. tidak akan ditandatangani surat ijin penelitiannya. Entah gebrakan macam apa yang sedang dipersiapkan oleh fakultas saya ini.

Hal ini cukup memberatkan, terutama bagi warga jurusan pendidikan IPS dan Bahasa. Akhir-akhir ini, di prodi kami, penelitian tindakan kelas menjadi tema skripsi yang dibatasi. Karna hasil skripsi PTK yang sudah-sudah, rata-rata judulnya sama, hasilnya tak jauh beda, hanya sekolah tempat penelitiannya saja yang berupa-rupa.
Dosen-dosen kami sepetinya punya visi untuk menjadikan kami seorang pendidik, bukan hanya pendidik, tapi juga merangkap sebagai ilmuwan. Atau setidaknya tahu cara kerja ilmuwan, tahu cara kerja riset dan pendalaman penelitian. Bukan sekedar jadi guru sejarah, tapi juga sejarawan. Bukan sekedar jadi Guru bahasa, tapi juga sastrawan. Mindset kami sudah dipola untuk berfikir diluar kebiasaan. Mencari apa yang belum ditemukan. Tanpa meninggalkan manfaatnya bagi ilmu pendidikan. Dengan kata lain, penelitian kami bisa berkaitan dengan kajian budaya. religi, politik, dan lain sebagainya. Bukan hanya murni pendidikan.
Lalu datanglah rumor kebijakan baru itu.
SEMUA JUDUL PENELITIAN HARUS BERTEMA PENDIDIKAN/PTK/BERIMPLIKASI PADA PELAJARAN ____
Pro kontra muncul bukan hanya di kalangan mahasiswa, tapi juga dosen dan prodi tentunya. Awalnya saya pikir ini hanya rumor atau sebatas wacana hingga ternyata beberapa teman menyatakan sudah merasakan dampaknya : pengajuan ijin penelitian, ditolak.
Padahal kebijakan ini belum diketok palu. Surat Keputusan belum keluar. Siang di hari rabu ini, dosen-dosen prodi kami, prodi sejarah, baru akan mengadakan rapat untuk menentukan sikap.
Tapi jika fakultas benar-benar serius dengan kebijakan ini, maka, entah benar-benar diterapkan sekarang atau nanti, satu hal yang pasti bagi mahasiswa fakultas ini. Judul penelitianmu dibatasi, hanya murni tentang pendidikan dan penelitian tindakan kelas.
Mohon maaf. Mewajibkan tema pendidikan/Penelitian Tindakan Kelas bagi seluruh mahasiswa FKIP, membatasi mahasiswa dalam mengeksplorasi minatnya, bagi saya sama seperti  pelanggaran hak asasi mahasiswa (halah). Sebuah usaha untuk mematikan potensi ilmuwan di fakultas ini.
Sudah semestinya disadari, bahwa tidak mungkin dari 1000 anak yang diterima per angkatan itu, semuanya akan benar-benar jadi guru. Banyak yang masuk fakultas ini hanya untuk coba-coba, tergiur peluang PNS dan sertifikasi, bahkan hanya kepleset pilihan cadangan pun ada. Masih terlalu dini untuk menentukan masa depan kami. Masih terlalu luas pengetahuan yang harus kami eksplorasi.
Semoga fakultas mempertimbangkan lagi kebijakannya ini. Saya sendiri sebenarnya bisa terima jika memang ini kebijakan yang telah digodog secara matang. Tapi bukan matang namanya jika ‘ujug-ujug’ diumumkan dan langsung dilaksanakan. Tak ada sosialisasi, tak ada salam perkenalan.
Parahnya lagi, dilaksanakan ditengah semester pula.
Judul saya tak bisa ‘ujug-ujug‘ ditambahi kata implikasi terhadap pendidikan atau semacamnya. Macam mie ditambah ayam, tidak serta merta jadi mie ayam. Banyak isi penelitian saya yang harus dihapus, dirombak, bahkan diulang kalau kebijakan ini benar-benar diketok palu.
Padahal (lagi) di universitas lain, penelitian tindakan kelas mulai dibatasi dengan dalih banyaknya penjiplakan dan hasil penelitian juga judul yang cenderung seragam. Hal yang sama pun diterapkan di prodi kami. Kenapa malah tiba-tiba diwajibkan?

Memang benar semestinya penelitian kami harus memiliki manfaat bagi dunia pendidikan (bukannya segala ilmu juga bermanfaat bagi pendidikan? -_-). Masalahnya, kenapa gak dari dulu sosialisasinya? Persiapannya?

Bagaimanapun juga, saya akan jadi pendidik, guru, dosen apapun itu namanya. Cepat atau lambat, itu hanya masalah waktu. Minimal saya akan jadi pendidik bagi anak-anak saya. Maksimal saya akan jadi pendidik anak siapapun itu, dimana pun saya berada. Tapi saya tak ingin jadi pendidik yang biasa-biasa saja. Yang masuk kelas hanya karena tuntutan kerja. Yang mengajar dengan materi seadanya. Jika ada waktu untuk bercerita, saya ingin ceritakan pada mereka sesuatu yang menginspirasi bagi masa depan anak didik saya. Bukannya melantunkan cerita tentang kejelekan rekan sejawat atau kepala sekolah didepan siswa. Pasti ada guru mungkin mengelak, tapi inilah cermin pendidikan kita. Okelah kalau anda bukan salah satunya, selamat. Tapi akui saja, banyak rekan anda yang sedemikian rupa.
Setidaknya saya punya pengalaman mendidik, menjadi pengajar di salah satu sekolah menengah. Tak lama, hanya tiga bulan saja. Hanya tiga kelas saja. Mendidik, mengajar, menjadi guru, bukan hanya perkara metode. Metode adalah penunjang. Mengajar, menyampaikan materi didepan anak bukanlah sesuatu yang sulit jika kamu benar-benar menguasai materinya. Saya ingin menguasai bukan hanya materi sejarah, tapi semua yang berkaitan dengannya. Saya ingin memberikan pemahaman “Hei, Nak. Belajar sejarah itu tak melulu tentang hafalan. Ini lho yang perlu kamu pahami…”

Sayangnya materi di buku teks kita hanya itu-itu saja. Resiko yang akan saya hadapi jika nanti saya sungguh jadi seorang guru adalah bahwa dengan menjadi guru, besar kemungkinan perkembangan pengetahuan saya akan terhambat.
Seorang profesor di prodi saya sempat berujar dalam salah satu jam kuliahnya. Pernyataan yang begitu mengena di memori saya. Sebuah alasan mengapa ia memilih jadi dosen, bukan guru. Hanya satu alasan: Stagnan. Pengetahuan guru itu stagnan. Tidak berkembang. Sistem pendidikan kita, memaksa guru untuk menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang sifatnya prosedural. Sebelum mengajar harus bikin rancangan pembelajaran (RPP), harus bikin sistem evaluasi sendiri, koreksi tugas siswa disana-sini, ditambah stress nya jika harus ‘ngatrol’ nilai. Guru terbebani oleh hal-hal yang prosedural dan sistematis.. kapan ada waktu untuk menambah ilmu ? Meluaskan materi yang sesungguhnya menjadi bagian paling inti sebagai seorang pendidik ?
Jika hingga nanti, hingga kita menjabat sebagai salah satu guru di negeri ini, dengan sistem yang masih begini-begini saja,,, maka masa kuliah menjadi satu-satunya kesempatan bagi kita untuk mengeksplorasi semua pengetahuan yang ada. Jadi, mengapa kami harus dibatasi ?
N.B.
Tulisan ini adalah buah kegalauan penulis yang sejak rumor pembatasan ini beredar, tak bisa nyenyak peejamkan mata. Hanya curhat semata. Bukan untuk provokasi, apalagi menggalang massa. 
sekian. Daaa~ (“-_-)/