“Halaman ini adalah halaman patah hati.
Tentang kasih yang tak terungkap kata.
Tentang perasaan yang terendap, mengakar, berlumut sebelum hilang.”

***

#10

Kepada tatapan yang menyaksikan betapa bumi berputar
Kepada petir yang mengulat kilat sebelum sambaran menggelegar
Kepada dasar laut yang berancang-ancang melempar tsunami
Kepada dua hati yang berbalik diam merajam saling menyakiti
Apakah kalian tak punya rumah untuk kembali?

Maka pergilah ke ruang makan di sudut neuron otak kananku
Sudah kusiapkan segelas rasa dingin untuk meredam panas di matamu
Ditambah sepiring rindu yang kusimpan dan kuhangatkan secara berkala
Jika belum cukup, susul aku ke beranda
Ada taman dengan jutaan kasih sayang yang kutanam sejak lama.

Pulanglah, jangan keluar rumah dengan marah-marah.

#9

Puluhan purnama lalu pernah kudengar puisi karya Rumi. Kamu pernah dengar?

“Aku memilih mencintaimu dalam diam, Karena dalam diam aku tidak mendapati penolakan.
Aku memilih mencintaimu dalam kesendirian, Karena dalam kesendirian, kau hanya milikku seorang.
Aku memilih memujamu dalam keberjarakan, Karena jarak akan melindungimu dari ancaman.
Aku menghanyutkan ciumanku bersama angin, Karena angin lebih berani dari bibirku yang sumbing.
Aku memilih untuk memelukmu dalam impian, Karena hanya dalam impian, kau akan terus kekal.”

Puluhan purnama selanjutnya, puisi itu jadi pegangan. Pengingat untuk diam kala rasa cinta datang merajam
Tapi aku melupakannya begitu saja saat bertatap jenaka matamu
Aku meninggalkannya begitu saja saat menikmati hangat genggamanmu
Aku mengabaikan peringatannya saat menyesap candu tawamu

Rasaku bersuara dan mulai berkenalan dengan luka
Rasaku mencari balasan lalu bergumul dengan ketidakpastian
Rasaku mendekat lalu terancam sakit pekat tertatih menggeram
Dekapan dan buaian tak lagi meredam rasa tidak aman
Dan ciumanku memilih untuk menyapa lalu berbalas curiga.

“Kamu menyesal?”–apa batinmu juga menanyakan hal yang sama?

Iya, sayangku. Aku menyesal.
Kamu dan aku, tak seharusnya mempercayakan apapun pada siapapun.
Tak ada yang mencintai aku melebihi diriku.

#8

‘Cinta tak pernah datang tepat waktu’
kataku, dulu.

Perasaanku menyendiri di sudut gelap dan mengeluh
‘Mengapa hatiku dan hatimu tak menjelma jadi satu’
‘Mengapa kasihku dan kisahmu tak pernah bertemu’
‘Mengapa takdirku hanya mampu melewatimu sambil lalu’

.

.

Maaf karena ternyata aku salah.

Rasa itu memang ada, tapi ia tak hadir sebagai sebuah kesalahan
Denganmu atau tanpamu, rasa itu akan selalu ada dan bertahan
Ia hadir karena kekuatannya tak pernah bisa dibatasi oleh waktu

Dan dengan alasan itu,
Aku tak bersalah karena mencintaimu.

#7

Ada kala mungkin bintang iri pada rembulan. Bagaimana bisa para pujangga begitu memujanya, padahal sinar bulan hanyalah kepalsuan belaka? Bagaimana bisa syair-syair tercipta dari  kedatangannya, padahal ia terang hanya semalam saja? Bagaimana bisa bulan begitu tega merenggut perhatian jutaan mata darinya, padahal ia telah begitu menderita karena jarak yang menghalangi pesonanya.

Lalu Tuhan berbisik pada bintang-bintang, “Tahukah kalian, bahwa selalu ada mata yang menyadari, bahwa sinarmu sejatinya terang melebihi bulan. Bahwa ada hati yang menghargai, kesetiaanmu menyinari dalam keabadian”.

#6

Halaman ini adalah halaman patah hati.

Tentang kasih yang tak terungkap kata.
Tentang baris-baris adegan tangis dan tawa.
Tentang perasaan yang terendap, mengakar, berlumut sebelum hilang.
Tentang hati yang tak berani tampil, tersingkir, sekarat lalu mati.

Halaman ini adalah kebodohan. Kelemahan yang tak semestinya dituliskan.
Tuhan memberimu hati bukan untuk dipatahkan.
Dan bukankah patahan ini yang menjadikannya sempurna sebagai hati?

Yang dipendam tak selalu menyakiti. Yang disampaikan tak tentu dinikmati.
Diungkapkan atau tidak, cinta akan tetap jadi cinta.

#5

Sekedar informasi,,
Aku sedang lelah. Lelah yang tak bisa kujelaskan dengan tegas apa sebabnya. Yang tak hilang bahkan setelah tidur seharian. Aku juga rindu. Rindu yang tak bisa kumusnahkan sepenuhnya. Yang tak jelas siapa tuannya.

#4

Ada 2 hal tentangmu yang membuatku candu.

Satu, caramu bersuara.
Candu pertama saat kamu memanggilku, memaksaku terpaku sekian detik. Butuh waktu lama sebelum aku menyadari betapa aku menyukai caramu menggoda di suku kata terakhir namaku. Aku mulai terbawa suasana saat kamu bercerita, berharap jadi bagian dari kisah-kisahmu. Dosisnya bertambah saat kamu tertawa lepas, membuaiku tak sadar diri tertawa bersamamu. Aku mulai keracunan saat suaramu meninggi, menolak setiap kata seolah ada beban berat disana. Overdosis saat nadamu merendah, membangkitkan jutaan semut baris-berbaris di sekujur tubuhku. Serbuan dingin di tengkuk leherku. Mengeram otot perutku dengan perasaan yang sesak dan anehnya–menyenangkan.

Dua, caramu menyakiti.
Menjebakku dalam perang kolosal antara logika dan hati. Aku selalu lepas, lalu kembali pada adegan yang itu-itu lagi. Memberimu hak untuk menyakitiku lagi dan lagi. Membiarkanmu menerbangkanku tinggi, mengikat tali antara hati dan jemari, lalu ditinggal pergi. Menarikku sesaat, lalu melepaskannya kembali. Membiarkanku jatuh perlahan, tapi pasti. Bersabda ‘aku tak akan pergi’ tapi tak selamanya juga bertahan di sini. Berkata ‘aku tak bermaksud melukai’ tapi tetap menyakiti. Tentu saja. Karena seni tertinggi dalam menghancurkan hati adalah dengan menginjaknya tanpa disadari.

#3

Aku tak akan bisa melupakan hari itu.

Hari pertama setelah sekian lama tak jumpa dan detik berikutnya saat kita bertatap mata. Ada bayang samar yang tertangkap pandanganku, antara ketertarikanmu dan keraguanmu. Lalu sampaikah pesan dimataku hari itu? Tentang ‘menjauhlah atau aku akan jatuh lebih dalam lagi’. Sepertinya tidak. Karena hanya butuh hitungan menit sampai langkah kakimu mendekati.

 “Apa kabar?” Demikian awal frasa sapamu.

“Kerjaan lancar?” frasa berikutnya.

“Keluarga sehat?” kamu semakin dekat dengan pertanyaan utama.

“Adikmu udah lulus?” lebih dekat lagi.

“Sama siapa kamu sekarang?”

Akhirnya.

Aku tahu ini yang paling penting diantara pertanyaan yang lain. Seandainya kamu tahu hal ini juga yang paling ingin kutanyakan tentangmu. Tiba-tiba aku merasa keberuntungan terbesarku adalah terlahir sebagai wanita. Begitu mudahnya berlindung dibalik topeng gengsi dan harga diri. Jawaban apapun yang keluar dari bibir kita hari itu, tak mengubah kenyataan bahwa drama kita tak berakhir dengan tanda ‘bersambung’. Kita sudah tamat bahkan jauh sebelum kisah ini dimulai.

Aku pulang malam itu dan tak terlelap hingga pagi. Memutar kilas balik hari-hari sebelum kita saling menjauh lalu mengakhirinya dengan air mata. Betapa beruntungnya aku wanita. Aku menahan diri untuk mencaritahu kabarmu. Variabel ‘bagaimana jika’ menyudutkanku pada rasa takut akan sakit hati. Meski tak terhitung hari betapa ingin kuungkapkan rindu. Semua tentang kamu, tawamu, amarahmu dan kilat nakal di matamu, aku sungguh rindu.  Tak kuingat berapa kali kuketik kata itu sebelum akhirnya kuhapus kembali. Yang tersisa dari masa lalu kita hanya deretan riwayat percakapan yang enggan sekali kumusnahkan.

Aku rindu perdebatan dan adu otak tak penting yang kita lakukan dulu. Kamu dan idealismemu, aku dan prinsip-prinsipku. Seseorang pernah berkata, bahwa memiliki pendidikan tinggi di negeri ini adalah suatu kemewahan tersendiri. Dan bersamamu kemewahan itu terasa nyata. Mimpi kita sama. Hasrat kita tidak berjalan pada jalur yang berbeda. Rasa hangat pada genggaman tanganmu masih jelas terasa. Jangan lupakan bagaimana kamu dengan cerdasnya mematahkan semua teoriku tentang cinta.

Seingatku kita bahagia. Kebahagiaan yang berubah rumit ketika kita melibatkan rasa. Terlalu lama terlena, berpura-pura lupa siapa kita sebenarnya. Sama-sama muda, masa depan terbentang untukmu dan untukku. Tapi kita sama-sama tahu, tak ada masa depan untuk kita. Dalam tiap momen hangat diantara kita, aku menahan diri untuk membahas tema yang tabu untuk kita berdua. Aku menikmati mimpi indah yang terjalin saat itu. Hingga kamu memaksaku bangun dari mimpi, tepat saat kamu bertanya,

“Mau gak kamu pindah agama?”

Retoris.
Aku hafal jadwal misa di gerejamu sama seperti kamu menjelma alarm sahur tanpa perlu kuminta. Aku mengerti, salah satu diantara kita akan tetap memuntahkan kenyataan itu cepat atau lambat. Kita tahu jawaban masing-masing bahkan sebelum pertanyaan itu terlontar. Kita bahagia. Tapi kita juga mual dengan perasaan yang tak jelas ujungnya dimana. Akhirnya kita kalah pada logika. Bukan. Kita mengalah untuk hal absurd yang melampaui logika bahkan cinta sekalipun.

Maria akan selalu ada dalam doa mu dan aku akan selalu condong pada Tuhanku.

#2

Tiba-tiba saja aku ingin jadi angin.
Aku ingin jadi angin yang kau syukuri kehadirannya saat terik tiba. Yang menerbangkan layang-layang dan membuatmu menyeringai menang. Yang membuatmu terpejam menenangkan lelah. Yang meniup debu dan membuatmu mengumpat. Yang berkeliaran disekitarmu dan menyentuhmu tanpa rasa berdosa. Yang membuatmu tersenyum seperti hari ini.

#1

Aku terbiasa sendiri, lalu takut untuk memulai.
Aku terbiasa disakiti, lalu tak sadar telah menyakiti.
Aku terbiasa diam menahan rasa, lalu tak tau bagaimana menyulam cinta.