MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Yang Tak Sempat Diceritakan Panjang Lebar

Tempo hari, Senin 30 April dan 6 jam menuju deadline tugas mingguan. Hampir seminggu dari premier Invinity War di Indonesia dan aku baru nonton filmnya. Terlambat sekali. Kali ini saja aku benar-benar tak berminat mereview karena rawan didoakan masuk neraka. Anehnya tadi malam aku mimpi dan ada Almarhum Logan disana. Astaga, kenapa gak mimpiin Chris Evans berjambang aja sih. Aku jadi ingat yang gak mau kuingat. Aku terpaksa buka lagi daftar draft tulisan yang dengan kondisi sekarang ini tak mampu kuselesaikan. Jadi aku gabung dan tulis singkat disini. Dimulai dari film-film yang aku ingin kalian tau.

MARLINA

Judul lengkapnya Marlina: Si Pembunuh Dalam 4 Babak. Aku sempat bikin versi bahasa inggrisnya disini untuk tugas akhir semester lalu. Setelah itu aku buat draft bahasa Indonesianya, lalu lupa. Ini film festival yang sempat tampil di bioskop XXI di Jogja tahun lalu dalam rangka Jogja-Netpac AFF. Kalau bukan karena even ini, aku mungkin juga gak akan bisa nonton film yang menawan ini.

Berkisah tentang Marlina, janda muda yang terlilit masalah keuangan sepeninggal kematian anak dan suaminya. Bahkan jasad suaminya belum dimakamkan dan duduk membatu dipojok ruang tamu. Hidup sendirian ditengah sabana Sumba, suatu hari Marlina kedatangan tamu tak diundang. Markus, seorang perampok, dengan terang-terangan berkata bahwa ia dan 5 teman perampok lainnya akan datang untuk mengambil uangnya, ternaknya dan jika ada waktu–tidur dengannya.

Aku suka film ini, suka sekali. Ranjang dan sup ayam punya peran penting di film ini. Keduanya bukan lagi jadi simbol perendahan derajat perempuan, sebaliknya keduanya adalah senjata yang menunjukkan bagaimana seorang Marlina bertahan dalam situasinya. Tentang bagaimana para perempuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tentang bagaimana mereka melawan dominasi. Marlina adalah sebuah kisah tentang bagaimana stereotip perempuan didobrak habis-habisan.
Penasaran?

MADAME X

Film kedua. Kalau bukan karena kelas Religion & Film, aku gak akan pernah tau eksistensi film ini. Film ini bercerita tentang Adam (Amink) dan perjalanan yang memaksanya menjadi superhero bagi kaumnya. Siapa kaumnya Adam? Cek deh poster filmnya.

Ini film humor dengan eksekusi yang berantakan. Sangat berantakan dan gak mutu. Sekilas bahkan tampak murahan. Tapi isu yang diangkat adalah sesuatu yang laik dipertimbangkan dan orang-orang yang terlibat dalam produksi film ini bukan sembarang nama.

Ini bisa jadi sedikit saran, kalau kamu tertarik pada film-film Indonesia yang mengangkat isu marjinalitas, identitas, feminisme, LGBTQI dan hal-hal satir dalam masyarakat kita, maka keyword yang perlu kamu cari adalah: Nia Dinata. Isu queer dan bias gender bakal kental banget kamu temukan sepanjang film ini. Aku rasa mereka yang terlibat dalam film ini memang sengaja ‘bakti sosial’ agar isu ini dapat perhatian. Biar kamu peka bahwa masalah sosial bukan hanya tentang dikotomi gender laki-laki dan perempuan aja. Film ini mungkin salah satu (atau satu-satunya?) yang menjadikan waria sebagai fokus utamanya. Bagaimana mereka dipandang dalam masyarakat dan bagaimana film-film umumnya memperlakukan mereka hanya sebagai pemicu tawa. Ini film kritik sosial yang lemah di eksekusinya dan minim publikasi, tapi pesan mirisnya bakal tetap sampai ke kamu kok.

JAGAL

Aku gak yakin sih film ini bakal menarik untuk dinikmati. Karena aku sendiri menonton dengan tidak nikmat sama sekali. Durasinya? Dua jam lebih. Joshua Oppenheimer harus bertanggung jawab karena sudah bikin film macam ini. Jagal adalah sebuah film dokumenter tentang pembuatan sebuah film. Cerdas ya.

Fokus utama ada pada seorang ‘Jagal’ dan teman-temannya yang pasca 1965 bertugas melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang diduga terlibat PKI. Di film ini, mereka dikasih kuasa dan dana untuk membuat sebuah film tentang apa yang mereka lakukan dulu, terserah mau dibuat bagaimanapun. Nah, Oppenheimer merekam proses tersebut dari awal hingga akhir, maka terciptalah film berjudul ‘Jagal: The Act Of Killing.’ ini.  Secara garis besarnya, ini adalah film tentang bagaimana cara melakukan pembantaian.

Tapi kisah yang ditampilkan di film ini lebih kompleks. Bukan hanya cerita tentang bagaimana metode pembantaian yang mereka tekankan. Melainkan juga bagaimana reaksi dan emosi yang muncul dari para tokoh di film ini juga bikin emosiku campur aduk. Mereka pembunuh dan disatu sisi aku jatuh benci tiap membayangkan apa yang sudah mereka lakukan. Tapi disisi lain aku juga jatuh simpati karena gak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang disebut penyesalan.

Aku menemukan film ini di pertengahan strata 1, tak lama setelah film ini dirilis. Waktu itu film ini dibiarkan–dan memang sengaja–diunduh secara gratis di situs actofkilling.com, semoga sekarang masih bisa juga kalau kamu tertarik untuk menonton. Karena jelas, kamu gak akan nemuin film ini diputar di acara nobar terbuka.  You know laah.

QUEEN OF THE DAMNED

Kesukaanku nonton film tidak dimulai dari superhero Marvel ataupun film-film bertema humanis. Ada satu masa dimana aku benar-benar fanatik sama film vampir barat dan penyebabnya adalah ini. Queen of The Damned.

Aku suka film ini, disusul series Vampire Blade, Van Helsing hingga Dracula. Twilight? No no..justru ini yang mematikan seleraku sama film Vampir.

QOTD adalah bagian adaptasi dari The Vampires Chronicles, novel karya Anna Rice. Adaptasi pertama adalah film Interview With The Vampire yang dirilis tahun 1994. Pemeran utama di film ini adalah Vampir bernama Lestat (Stuart Townsend), ia ‘diciptakan’ pada pertengahan abad ke-18 dan telah hidup ratusan tahun dalam kesepian dan persembunyian. Ia membenci kaumnya dan kehidupan abadinya. Ia ingin balas dendam dan mati. Jadi di abad ke-21 ia menampakkan identitas kaumnya dengan menjadi rock star. Musiknya bukan hanya membangkitkan amarah kaum vampir, tapi juga membangkitkan sesuatu yang lain.
.
.
Iya, vampir punya band dan jadi rock star. Lestat memang seorang sevampir seniman. The Vampire Chronicles adalah kisah yang menuntun kita bersimpati pada iblis peminum darah ini. Di film yang rilis 1994, Lestat diperankan oleh Tom Cruise.  Aku rasa siapapun yang pernah merasakan kesepian dan penyesalan bisa memerankan Lestat di film selanjutnya. Siapapun selain Robert Pattinson.

Oh ya, tau gak siapa yang dubbing suara Lestat dan jadi main soudtrack film ini?

KORN.

Suara Jonathan Davis muncul tiap kali Lestat bernyanyi dan bahkan setelah tau kalau Davis gak seganteng Stuart Townsend pun, I keep fall for his voice and the way he singing. Aku rasa ini kali pertama aku kenal Korn dan jadi adiktif hingga tahun-tahun berikutnya. Aku punya kebiasaan dengerin lagu-lagu keras tiap kali butuh fokus ngerjain sesuatu. Sampai sekarang lagu-lagu Korn masih setia tinggal di playlist laguku.

Temen kantorku, Mas Tagar, punya komentar statis tiap kali baca review filmku. Dia bilang kenapa sih aku nonton film sambil mikir berat. Iya juga. Ya gimana, otakku udah keracunan sama banyak hal. Tapi film ini adalah bagian dari nostalgia seorang aku yang masih naif. Aku tonton dan aku suka tanpa memikirkan ada konspirasi apa dibalik pembuatannya. Film ini dirilis 2002 tapi aku baru nonton kelas 2 SMA, mungkin sekitar tahun 2008. Sebelum menulis ini aku tonton lagi filmnya di salah satu situs online. Setelah sekian lama, aku masih merinding dan gak kehilangan sensasi menyenangkan yang aku dapat hampir 10 tahun lalu.

LOGAN

Dari daftar tulisan yang tak selesai, ada Logan yang sudah terbengkalai hampir 1 tahun. Diantara film superhero barat yang sudah aku tonton, Logan yang terbaik. Plot ceritanya aneh, tapi menarik. Logan (Hugh Jackman) tiba-tiba tau bahwa ia punya anak perempuan, X-23, hasil rekayasa laborat. Logan sangat terguncang. Ya iyalah, anak darimana, bikin aja enggak.

Aku suka karakter X-23 disini. Film ini dirilis dengan rating dewasa tapi didalamnya ada pemeran anak-anak yang melakukan adegan pembunuhan dan dengan santainya nenteng kepala orang. Wah.

Tak banyak percakapan berarti dan makian disana-sini. Tapi kalau bisa menonton sekali lagi, aku gak akan keberatan untuk nangis lagi. Setelah 15 tahun Xmen universe, Logan benar-benar terlihat rapuh dan tua. Adegan pertarungan antara Logan tua dan kloning Logan yang jahat adalah yang paling miris. Gak peduli seberapa fancy dan canggih kostum yang pernah kamu pakai, pada saatnya pertarungan terberat yang mengantar kematianmu harus dilakukan dalam balutan jeans tua dan kaos singlet. Logan adalah pelajaran dan ending terbaik yang bisa dihasilkan sebuah film aksi.  Memangnya apa yang lebih mengerikan daripada melawan diri sendiri?

***

Udah dulu ah. Ditungguin deadline~

2 Comments

  1. Ijin share… 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2020 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑