MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Review: The Shape Of Water

Ada 2 faktor prioritas yang buat aku memutuskan menonton sebuah film. Pertama trailernya menarik, kedua sutradaranya menjanjikan. Dalam hal ini, The Shape of Water punya keduanya.

Kamis putih dan aku sedang menimbang jam berapa berangkat kerja malam itu. Sambil berfikir mau pakai baju apa untuk kunjungan ke gereja pada Jumat paginya, aku bukalah instagram karena aplikasi setan ini lagi bikin aku candu. Di beranda, ketemulah aku sama postingan bersponsor yang kalau di-klik mengarah pada trailer film dengan setting vintage dan main lead monster ikan yang familiar. Tapi entah kenapa aku justru suka trailer film aneh yang visualnya memanjakan mata.

Nama Guillermo del Toro muncul kemudian. Aku gak bisa bilang tidak. Del Toro adalah nama yang juga menggarap film pertama Pasific Rim. Apa kelebihan Pasific Rim pertama dibanding yang kedua? Ceritanya.
Jadilah aku memutuskan untuk nonton malam itu juga sebelum berangkat kerja dengan ekspektasi yang cukup tinggi terhadap ide ceritanya dan aku gak kecewa. Fenomena ini aku sebut cinta pada trailer pertama.

Menjadi gadis bisu dan baik hati, Elisa punya kehidupan yang sederhana sebagai cleaning service di sebuah pusat penelitian. Mengantar sarapan untuk tetangga tunggalnya dan menarik presensi kehadiran tanpa perlu mengantri menjadi rutinitas yang tak membuat menit-menit awal cerita terlihat menjanjikan. Seperti sedang berjalan ditepi pantai, sentuhan ombak pertama bagi Elisa adalah saat ‘Asset’ berharga untuk penelitian di tempat itu datang. Belaian ombak berikutnya menarik Elisa lebih dekat dan dekat lagi pada makhluk yang disebut monster itu. Ia hanyut dan tenggelam pada sensasi perasaan yang tak terjangkau akal manusia. Ditengah intrik dan thriller konflik dengan pemeran antagonis, romansa berlanjut antara si perempuan bisu dan manusia ikan.

***

Enaknya spoiler gak yaa?~

Setting film adalah pada masa perang dingin antara Amerika dan Sovyet. Penelitian tentang manusia ikan ini adalah bagian dari persaingan pada bidang ilmu pengetahuan. Basi sih, tapi menyenangkan kalau kamu paham konteks. Film ini merangkum isu-isu sosial yang hangat dibahas di Amerika, mulai dari marginalisasi LGBT, rasisme sampai white supremacy.  Semua ditunjukkan melalui simbolisasi yang disamarkan dalam penataan suasana, hingga yang disampaikan secara explisit melalui penokohan dan percakapan. Mbak-mbak di sampingku berkali-kali tanya ke pacarnya kenapa begini dan begitu, sayang pacarnya gak paham dan sok tahu. Kasian sekali.

Manusia ikan yang aku sebut familiar dalam film ini identik dengan Abe Sapien di film Hellboy. Ada banyak hal yang mendukung hipotesa bahwa film ini adalah prequel dari Hellboy. Pertama, Abe Sapien dan si monster ini sepertinya berasal dari spesies sama dengan kemampuan luar biasa pada sentuhan telapak tangan(sirip?)nya. Kedua, film ini seolah menjelaskan alasan dibalik kecintaan Abe pada musik klasik dan mengapa banyak kucing di kamar Abe-Hellboy.  Ketiga, aktor yang memerankan sama yaitu Doug Jones. Terakhir, The Shape of Water maupun Hellboy dibuat oleh tangan yang sama: Del Torro.
Aku gak mau buru-buru bilang kalau keduanya memang sama, karena setelah dilihat lagi penampakan fisiknya berbeda. Abe tidak sesangar monster di film ini. Selain itu kalau nonton Hellboy yang pertama, nama ‘Abe’ sendiri diambil karena masa lalunya diduga berhubungan dengan hari kematian Abraham Lincoln. Abraham Lincoln hidup seabad sebelum perang dingin, akhir 1800an. Sementara di The Shape of Water, makhluk ini baru ditemukan di pertengahan masa Perang Dingin, akhir 1900an. Selisih waktunya terlalu jauh untuk mengklaim dua makhluk ini adalah tokoh yang sama.

Kategori film ini adalah untuk penonton Dewasa. Wajar karena 123 menit film ini diwarnai banyak adegan vulgar, both sexual and violence. Termasuk pada adegan sadistik yang sederhana tapi entah kenapa bikin aku mual, seperti waktu tokoh antagonis menarik putus jari tangannya sendiri yang membusuk. Lambungku lemah. Padahal selayaknya bioskop Indonesia, film ini juga sudah memiliki banyak sensor dan mungkin pemotongan adegan di beberapa bagian. Tapi mual lebih baik daripada suara mbak-mbak di baris belakang yang jejeritan jijik waktu adegan Elisa dan si monster ikan mandi bareng. Baru juga mandi bareng, disensor pula. Susah memang nonton satu studio sama manusia-manusia suci.

Ini film bagus yang aku rekomendasikan kalau kamu lagi belajar nonton film rating dewasa. Terutama sisi sadistiknya. Bukan tipe adegan pendarahan super canggih macam The Raid atau Saw. Adegan kekerasannya seperti yang aku bilang tadi: sederhana, tapi bikin ngilu. Sangat.  Kalau bagian romantisnya gak tau ya recommended atau tidak. Elisa dan manusia ikan adalah contoh konsep Beauty and The Beast yang memang bikin gelik sih. Haha~

http://static.digg.com/images/6a5260dd65eb4195a3b2b17d05a13b63_2t9c5L1_header.jpeg

credit picture from digg.com

Mungkin rating 8/10 cukup untuk film ini. Aku keluar studio dengan perasaan biasa, tidak terlalu senang tapi juga tidak kecewa. Romance memang bukan genre favoritku. Dua tokoh utama dalam film ini tidak bisa bicara dan aku mengapresiasi bagaimana Del Torro menyampaikan pesan dengan lebih dari sekedar kata-kata. Expektasiku menemukan tuntutannya. Satu hal yang aku catat setelah film ini berakhir:
Aku harap Del Torro turun gunung dan segera bikin film robot lagi.

***

 

 

2 Comments

  1. boenzfaqod@gmail.com

    April 8, 2018 at 4:43 pm

    Simpel tapi menginspirasi. Ternyata kamu memang penggemar film ya man 😃.
    Mantaavvlah. Terus nulis ya man, posting di status lagi. I’ll be your writing’s reader

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2020 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑