Seijuro Hiko, seorang ahli pedang aliran hitenmitsurugi berjalan mendekati lembah gersang, dimana kumpulan mayat bergelimpangan. Sebagian dari mayat-mayat itu telah dikubur dengan layak. Seorang anak lelaki dengan yukata lusuh terlihat sibuk menggali tanah bebatuan dan mengubur satu demi satu mayat-mayat tersebut.

“Ini adalah mayat-mayat bandit yang kubunuh. Kau menguburnya sendiri?”
“……”, anak itu diam tak menjawab.
“Lalu dimana orang-orang yang memburumu tadi?”
Tanpa berujar kata, anak itu menunjuk kumpulan kuburan baru disudut lain lembah itu.
“Setelah apa yang mereka coba lakukan padamu, kau masih tetap menguburnya dengan layak?”, Seijuro kembali bertanya.
“Bagiku semua mayat sama saja. Tak peduli siapa dia, mayat tetaplah mayat.”—Suara anak itu akhirnya terdengar. Seijuro mendekati anak itu..
“Siapa namamu?”
“Shintha”
“Itu bukan nama yang bagus untuk seorang ahli pedang. Aku akan mengajarimu bertarung dengan gayaku. Mulai sekarang kau akan dikenal dengan nama.. Kenshin”.
***
Itu adegan pembuka dari Rurouni Kenshin: The Legend End. Dengan penggambaran cuplikan masa lalu Kenshin yang masih berusia 9 tahun saat pertama kali bertemu dengan gurunya, Seijuro Hiko. Selanjutnya adegan langsung menuju pada lanjutan seri Kyoto Inferno. Kenshin ditemukan terdampar di pantai oleh seorang pencari kayu apung yang ternyata adalah gurunya sendiri, sementara Kaoru tentu saja masih hidup dan segera ditemukan oleh Yahiko serta Sanosuke—Kebetulan yang menguntungkan ini rasanya seperti konspirasi untuk menyingkat cerita. Sesuai judulnya, film ini tentu saja bermaksud menggambarkan bagaimana akhir dari sang pembunuh yang melegenda, Hitokiri Battosai (Kenshin).

Plot awal cerita berjalan dengan kisah yang mudah ditebak, Kenshin yang harus mengalahkan Shishio akhirnya meminta jurus baru pada gurunya. Shishio mulai memasuki tokyo dan segera mengetahui bahwa kenshin masih hidup. Konsep cerita yang melibatkan politik kotor pemerintahan era baru juga masih dipakai dalam film ketiga ini. Bahkan lebih kuat karena bukan hanya dijelaskan dalam satu dua percakapan seperti di kedua film sebelumnya.Sang sutradara, Keishi Otomo, tampaknya masih bermain aman dengan memaksimalkan tiap laga aksi dan pertarungan dalam film ini, sebagaimana disuguhkan dalam Kyoto Inferno. Memang disini kekuatan filmnya sih, menurutku.

Memang awal filmnya sedikit membosankan, alur ceritanya terasa terlalu lambat. Kadang terlalu cepat. Tapi kejutan film ini memang ada di menit-menit akhir dengan marathon pertarungan diatas blackship. Memang berbeda dari versi animenya dimana setting pertarungannya harusnya di sebuah gunung, bukannya diatas kapal, tapi itu tidak mengurangi esensinya sih. Saya bingung apa istilahnya, yang jelas tiap adegan battle-nya lebih dari sekedar keren.

Dimulai dengan Kenshin vs Soujiro yang saling memamerkan adu kecepatan, Sanosuke vs Biksu—lupa namanya, hingga akhirmya pertempuran yang paling diluar dugaan antara Makoto Shishio melawan Kenshin, Hajime, Aoshi dan Sanosuke. Yaah, bahkan sang legenda pun tak bisa mengalahkan Shishio sendirian. Hah!.

Pertarungan ini adalah realisasi dari adegan percakan Soujiro-Kenshin sebelumnya, saat Soujiro mengatakan bahwa Shishio adalah monster. Dan iya. Adegan pertarungan ini sukses menggambarkan sosok monster Shishio.

Takeru Satoh masih mendominasi adegan pertarungan yang tentunya lebih menegangkan. Usut punya usut, ia tak menggunakan stuntman dalam setiap laga actionnya. Saya sempat lihat video latihan dan behind the scenes-nya di Youtube dan memang benar demikian, seolah dia tak punya rasa takut saat berlarian di atap rumah. Dan komentar utama dari saya tentu saja: Dia masih ganteng. Sementara aktor kawakan Masaharu Fukuyama, bermain apik membawakan tokoh baru, Seijuro, seorang ahli pedang paruh baya yangmemilih menghabiskan masa tua sebagai pembuat cangkir. Menutupi tubuhnya dengan pakaian lusuh, tapi tetap gagah dan kharismatik. Sedikit berbeda memang dari versi animenya dimana Seijuro bersikap lebih dingin, sementara dalam film ini ia justru jadi lebih ekspresif.

Kabarnya film ketiga Rurouni Kenshin ini jadi film paling laris di Jepang. Hmm, opini saya tetap sama, selain adegan pertarungannya, bagian lain di film ini terasa biasa saja. Mungkin kesuksesan film ketiga ini harus berterima kasih pada film kedua—Kyoto Inferno—yang berhasil memukau dan tentu saja meninggalkan rasa penasaran yang luar biasa di akhir cerita.

Tapi tak apa. Sekali lagi, Takeru Satoh tetap yang paling ganteng!! Hail!