Akhirnya waktu luang di minggu ini habis juga buat nonton ulang film-film yang udah lewat. Bener-bener udah berasa jadi kalong. Atau semacam vampir tapi minumnya susu strawberi. Rasanya gak pengen ketemu orang, gak pengen keluar kalau gak terpaksa, kena panas kayak mau meleleh gitu. Badan kaku karena jarang kena matahari, ditambah lagi gak punya nyali buat nonton di bioskop sendiri.

Ini satu film yang gak tahu kenapa tiba-tiba bikin ngerasa bersalah karena gak segera posting reviewnya. Jarang kan nemu film action Indonesia yang manteb setelah The Raid. Diantara semua film Anggi Umbara, yang ini yang paling aku suka (tiba-tiba pakai aku kamu ciee~).

Film 3 rilis tahun 2015. Aku ingat banget udah nungguin film itu naik layar dari jauh-jauh hari, belum sempet nonton karena satu dan lain hal, film ini udah terlanjur turun layar. Masalahnya durasi dia tayang di bioskop kotaku tuh sebentar banget. Gak ada 2 minggu kayaknya. Kalau menurutku dia turun layar karena penontonnya sedikit, kalah sama film romancenya Dimas Anggara apalah judulnya aku lupa yang waktu itu nangkring hampir sebulan di bioskop yang sama. Sayang banget ya, untuk ukuran film dengan koreo action yang gak main-main, visual effect yang keren, serta plot cerita dan twist yang bagus, aku pikir 3 justru kalah di promosi.

Kayaknya kalimat terakhir diatas udah cukup mewakili reviewnya deh. Haha. Film 3 mengangkat tema yang korelatif dan Indonesia banget. Hal-hal tentang terorisme, agama, fanatisme, kriminalitas, hukum, konspirasi, persahabatan, keluarga dan prinsip-prinsip. Indonesia banget meskipun percakapan berbahasa inggris ikut nyempil disana-sini–tentu saja bukan ini poinnya.

Setting cerita berawal dari Jakarta di tahun 2036, demokratis dan damai, sampai-sampai yang namanya senjata api gak dibutuhin lagi, sebagai gantinya penegak hukum hanya diijinkan menggunakan peluru karet dan diasah kemampuan beladirinya. Kriminal tak dibunuh di lapangan karena setiap orang dijunjung tinggi hak asasinya. Pusat cerita berputar diantara 3 sahabat yang tumbuh dari akar pesantren yang sama hingga mereka memilih jalan masing-masing. Alif, polisi yang disegani, baginya hukum adalah kebenaran dan pelanggar hukum harus dihentikan apapun alasannya dan siapapun orangnya; Lam yang menjunjung tinggi rasionalitas, jurnalis cerdas dengan keluarga kecil yang bahagia; dan Mim yang memilih bertahan dan menjaga pesantren tempat mereka dipertemukan, apapun perintah kyai adalah kewajibannya untuk mematuhi.

Dari awal film dimulai, konflik dan percakapan sarat sarkasme sudah jadi suguhan utama. Klimaks dimulai ketika sebuah bom meledak di sebuah cafe ternama di pusat kota. Kedamaian mulai goyah dan bibit radikalisme jadi ancaman setelah sekian tahun tak ada gaungnya. Alif dan Lam dilanda dilema lantaran semua bukti mengarah pada titik yang tak mereka sangka: Pesantren tempat Kyai dan Mim berada.

Aku pengen banget sih nulis sinopsis lengkap film ini disini–sebagai tukang spoiler sebenarnya jariku gatel tiap kali habis nonton film. Cuma aku tahan demi perkara etis gak etis. Terlebih aku juga lebih pengen kalau kalian sempetin buat nonton film ini. Aku gak bercanda kalau aku bilang sesuatu itu ‘recommended’. 

Tapi aku musti akuin juga ada banyak percakapan dengan kalimat-kalimat klise di film ini. Kalimat yang terlalu sering aku baca di novel-novel sampai akhirnya gelik sendiri kalau denger kalimat sejenis nongol di film-film.

Apresiasi khusus aku kasih buat Tanta Ginting. Dia cuma muncul beberapa menit dengan aktingnya yang aneh tapi berasa jahatnya–gemes deh kalau sama cowok yang jahat-jahat lucukk gitu. Di akhir, saat Alif akhirnya bertemu dengan si tokoh antagonis–yang diperankan oleh Tanta Ginting–adalah scene yang paling berkesan karna aku suka kata-katanya yang mewakili pikiranku selama ini.

“Pasti yang ada di otak kamu sekarang, kami adalah komplotan iblis yang membuat perang dan kekacauan, membunuh orang semau kami. 
Guess what?
Iblis adalah makhluk yang paling dekat dengan Tuhan. Yang paling taat atas fungsi dan perintah Tuhan.
So, we-are-the necessary-evil.”

***

P.S.
Ada Rio Dewanto di detik-detik menuju film tamat. Bikin ngarep ada sekuelnya. Jahatnya Anggi Umbara tuh disitu. PHP!