MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Pasific Rim Uprising: Sedikit Catatan

Aku gak terlalu antusias nonton Pacific Rim Uprising pada awalnya. Tapi keadaan minggu ini benar-benar bikin desperate hanya sekedar untuk nonton film ini. Mulai dari antrian tugas tanpa rehat, sampai drama demam di malam Jumat. Aku begitu butuh pelarian, seolah cuma Uprising yang bisa jadi obatnya. Karena itu ketika akhirnya nonton, rasanya lega luar biasa.

Sayangnya, karena kondisi itu juga, aku datang ke XXI dan membeli tiket dengan harapan yang terlalu tinggi. Hasilnya, entah kenapa tiba-tiba aku rindu Kabutaku.

B-Robo Kabutaku idolaku~

***

Pacific Rim Uprising Poster

Sebagai generasi yang tumbuh dibawah asuhan Ultraman Tiga sampai Ultraman Gaia, mau gak mau aku ketawa waktu pertama lihat Kaiju. Kenapa monsternya harus sejenis peranakan Godzilla begitu? Tapi paling tidak pahlawan utamanya bukan raksasa yang pakai jumpsuit latex super ketat.

Selain tampilan luarnya, Uprising ini beda rasa sama Pacific Rim. Mungkinkah karena ‘koki’nya juga beda? Iya. Sutradaranya beda. Aku ingat pertama kali nonton Pacific Rim dan gak habis pikir betapa konyolnya film ini.  Konyol dalam artian yang baik.

Pacific Rim yang aku tonton saat itu adalah kolaborasi dari 10 menit membosankan, 20 menit penasaran dan sisanya gregetan yang menyenangkan. Sementara Uprising adalah cerita kebut-kebutan dengan cita rasa avengers, ultraman dan power ranger digabung jadi satu.  Tau kenapa aku gak spoiler di tulisan kali ini?
Karena plot ceritanya cepat dan pendalaman karakternya gak ada.

Sama seperti Transformer, kekuatan Uprising ada di bagian actionnya dan CGI-nya, meskipun koreografi tarungnya entah kenapa terasa familiar. Pemeran utamanya memang berubah, sisanya copy-paste template semata. Gak ada adegan yang mengalahkan pidato emosional Cancelling The Apocalypse. Menyamai pun tidak. Bahkan meski settingnya 10 tahun sejak Pentecost tewas, tidak ada modifikasi untuk Gipsy Danger. Aku hampir gak sadar bahwa robot ini adalah versi baru bernama Gipsy Avenger karena teknologi Jaeger saat pertarungan pertama dibuka juga gak jauh beda dengan film pertama. Gipsy perutnya lebih langsing dan punya pedang baru yang dilengkapi LED, semacam upgrade dari light saber mungkin. Tapi tetap kaget ketika ketemu Obssidian Fury yang lebih canggih. Terus kemarin-kemarin ngapain aja sih Sis?
Ini hal sepele, tapi merusak logika.

Gipsy Avenger

Kalau ada film ketiga dari Pasific Rim, aku harap mereka melakukan yang terbaik. Aku rasa untuk penggemar Transformer macam aku, Pacific Rim adalah alternatif baru dimana konsep dasarnya lebih masuk akal. Bayangin kalau kamu diserang monster beneran. Daripada menunggu bantuan dari alien baik hati, apa yang lebih keren daripada menciptakan monstermu sendiri?
Itu konsep yang manusiawi banget karena sifat dasar spesies kita adalah melakukan apapun untuk bertahan hidup. Porsi besar penilaian sebuah film ada pada bagian ceritanya. Prinsip ini yang harusnya diperdalam sama Pacific Rim siapapun sutradaranya. Kalau tidak, cuma masalah waktu aja sampai Pacific Rim jatuh dalam jebakan franchise, seperti yang terjadi pada Transformer: sekedar merilis upgrade action scenes dengan mendompleng kesuksesan versi sebelumnya.

Akhirnya aku tetap menikmati film ini karena hormon endorphinku gak bisa menolak pertarungan robot versi apapun. Ini film yang cukup bagus. Minimal gak separah Transformer seri terakhir. Gakpapa, karena aku tetap kasih 7.5/10 untuk Pacific Rim Uprising. Bagaimanapun sekuel selalu punya beban berat karena ia tumbuh dibawah bayang-bayang versi originalnya. Komentar terakhir, Gipsy Avenger lumayan keren walaupun masih kalah seksi dari Gipsy Danger. Aku masih sayang sama Optimus Prime. Tapi Gipsy Danger ada di kelas yang berbeda. If Optimus Prime is a hero, then Gipsy Danger is a Legend.
Hero always get remember, but you know legend never die.

***

2 Comments

  1. Selalu menyenangkan membaca review film terkini. Meski saya engga cukup paham tema film kali ini, tetapi cukup tergambar apa yang tejadi di dalam film. Sayangnya saya bukan penggemar film genre ini sehingga membaca review ini sudah merasa cukup.

    NB: paragrafingnya perlu diberesin lagi deh kayaknya. Pembaca setia pasti akan berterima kasih jika beberapa paragraf yang seharusnya dikasih space untuk bernafas dan jeda untuk berpikir, malah terasa terlalu rapat hingga ga sempat berjarak, yes.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2020 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑