Bharatayuda atau Mahabharata bukan legenda, melainkan sebuah karya literasi. Pengarangnya Resi Vyasa atau Begawan Byasa. Konon, Begawan Byasa  membutuhkan seseorang yang mampu menulis dengan cepat, secepat plot cerita muncul di otaknya dan secepat rangkaian kata-kata keluar dari bibirnya. Tapi tidak satu manusia pun mampu mengimbangi kecepatan pikiran manusia lain. Maka Begawan Byasa meminta pertolongan Dewa Ganesha. Kesepakatannya, Ganesha akan menulis kisah ini dengan didikte oleh Begawan Byasa, tanpa berhenti sama sekali. Maka dimulailah penulisan kisah ini. Begawan Byasa bercerita dan Dewa Ganesha menulis dengan amat cepat. Alat tulisnya yang berupa pensil bulu patah berkali-kali, diganti berkali-kali hingga cadangannya pun habis sama sekali. Ganesha tak bisa menulis sementara Begawan Byasa terus bertutur cerita. Agar tak tertinggal jauh, akhirnya Ganesha mematahkan salah satu gadingnya untuk menggantikan alat tulis yang rusak. Itu sebabnya patung Ganesha hanya memiliki satu gading saja. Berkat pengorbanannya, selesailah Astadasaparwa tersebut. Sebuah kisah yang ditulis dalam 18 kitab tentang perebutan tahta yang berujung pada perang 18 hari.

Aku menghormati keyakinan para pengikut Ganesha, hanya tak cukup iman untuk mengaku percaya. Tetapi aku percaya pada latar dibalik karya. Aku percaya bahwa novel, cerita, film, lagu, puisi adalah refleksi dari keadaan sosial yang terjadi pada masanya. Terlepas dari salah benar keterlibatan dewa dalam pembuatannya, Mahabharata adalah cerminan kehidupan sebuah masyarakat yang bersandar pada adat, kuasa dan kasta. Mahabharata adalah kisah hitam putih yang melambungkan nama Pandawa dan Sri Krishna. Kisah tentang kebijaksanaan Yudhistira dan kesaktian seorang Bima. Entah berapa bayi kembar yang diberi nama Nakula-Sadewa. Pada akhirnya kisah ini juga jadi muasal antrian panjang pemuja Arjuna.
Sayangnya, buatku pria baik-baik memang tak pernah menggugah selera.

***

Seandainya unsur kedewaan tak pernah terlibat dalam kisah ini. Seandainya ini hanya sebuah kisah tentang para manusia di Hastinapura saja. Maka siapakah yang tak akan jatuh cinta pada Radheya Karna?
Karna adalah anak yang lahir diluar perkawinan lalu dibuang oleh ibu kandungnya yang bangsawan. Di sebuah masyarakat yang terikat sistem kasta, hak lahirnya direnggut bahkan sebelum ia mengenal namanya sendiri. Ia kemudian tumbuh sebagai anak kusir, seorang anak kasta rendahan yang penuh dengan bakat terpendam. Ia tahu medan perang adalah tempatnya, tapi bukan sebagai kusir kereta. Lalu kepada siapa mimpinya harus berlabuh?

Ksatria pujaannya adalah Bhisma. Suatu hari ia tunjukkan bakatnya pada tetua Hastinapura itu, yang kuasanya diatas raja sekalipun. Berharap menemukan jalan, berharap diberi kesempatan. Seperti dugaannya Bhisma yang bijaksana tak akan marah. Bhisma memang tidak marah, tapi ucapannya menyulut amarah. Karna tak boleh menunjukkan bakatnya pada seorangpun di negeri ini. Bhisma bisa mengampuni, tetapi tidak dengan adat dan masyarakat. Mempelajari ilmu yang bukan hak kastanya, dianggap sebagai sebuah pelanggaran adat dan diganjar hukuman mati. Anak kusir kereta hanya boleh belajar mengurus kereta, membawa panah untuk tuannya dan bukan memegang busur sebagai senjata. Si pemuda mempertanyakan nasibnya. Mengapa dewa memberinya bakat tapi tak memberi jalan untuk menyalurkannya?
Sang pujaan menjelma jadi patah hati, ia dipaksa untuk mengekang bakatnya sendiri.

Guru dambaannya adalah Durna. Suatu hari ia tunjukkan bakatnya pada guru besar Hastinapura itu, yang kesaktiannya diakui tujuh penjuru.  Berharap menemukan jalan, berharap diberi kesempatan.  Tapi Durna justru membuang ludah. Mempertanyakan kasta dan menghina kesungguhannya. Mengingatkannya pada tempatnya dan meninggikan Arjuna sebagai ksatria pemanah andalannya.
Sang dambaan menjelma jadi pemantik api cemburu, ia bersumpah akan membalas segala penghinaan itu.

Karna meninggalkan Hastinapura, menyamar jadi brahmana untuk mengelabuhi Begawan Parasurama. Bakatnya terasah, tapi harus diganjar dengan harga yang sedemikian besar. Parasurama marah dan mengutuk saat tahu dirinya telah ditipu. Karna bersujud mohon ampun karena tak punya pilihan lain, hanya itu satu-satunya cara untuk menuntut ilmu. Setelah kembali ke Hastinapura, tak seorangpun bersedia mengakui kemampuannya. Penghinaan tak berhenti mengalir saat latar belakangnya diketahui. Mulailah Radheya disematkan sebagai namanya. Radheya artinya putra Radha–nama ibunya. Radheya adalah peringatan atas nasabnya, bahwa ia adalah anak dari perempuan yang hanya istri seorang kusir kereta. Tidak seorang pun mengakui kemampuannya, tidak seorang pun menghargai usahanya. Tidak seorang pun kecuali Duryudana. Seorang anak susah payah mencari pengakuan, lalu diangkat derajatnya oleh seorang penjahat. Lalu dunia dengan tidak tahu malu menyalahkannya karena setia pada seorang raja–yang katanya–brutal luar biasa. Arjuna tidak lebih baik dari Radheya Karna. Tahu bagaimana akhir pertempuran antara dua pemanah Karna dan Arjuna?
Arjuna yang–katanya–tampan dan hebat itu, atas saran Sri Krishna yang konon bijaksana, membunuh Karna saat ia dalam keadaan tidak siap. Roda keretanya terperosok dan Prabu Salya, sang kusir tidak berkenan memperbaiki atas dasar harga diri. Radheya Karna meletakkan busurnya, turun dari keretanya dan berusaha mengangkat sendiri roda keretanya. Disaat itu panah terakhir Arjuna dilepas, tepat mengarah pada Karna.

***

Dimata Karna Duryudana adalah penyelamat, sahabat yang menghargai kemampuannya. Adalah umum dalam sistem kerajaan manapun, para pesaing tahta akan selalu berakhir diasingkan atau dibunuh. Jika Pandawa berkuasa, tak ada jaminan bagi keberlangsungan hidup putra-putri Destrarata. Apa yang dilakukan Duryudana, hanyalah untuk melindungi keselamatan keluarga dan saudara-saudaranya. Ia harus membunuh sebelum dibunuh. Karna menyerahkan loyalitasnya pada seorang raja yang juga sedang terdesak. Meski akhirnya ia tahu bahwa Kunti adalah ibu kandungnya, ia tak serta merta meninggalkan Duryudana dan beralih pihak. Setia sampai akhir sebagai panglima Hastina dan sebagai putra Radha.

Seandainya seorang anak dititipkan padaku untuk dirawat, harapanku ia jangan sampai jadi Arjuna yang tak bisa berkata tidak pada banyak wanita. Jangan pula jadi Yudhistira yang mempertaruhkan istri dan saudaranya sendiri di meja judi. Aku mau ia jadi seperti Radheya. Ia cukup jadi anak biasa yang tak menyerah meski terhimpit keadaan. Seorang anak yang berusaha mendobrak ketidakadilan sistem kasta. Seseorang  yang tidak mengalah pada stigma dan berkompromi dengan segala penghinaan. Seseorang yang tidak pasrah pada nasib dan tidak berhenti menuntut ilmu, apapun resikonya.
Jadi, bagaimana bisa tidak jatuh cinta pada Radheya Karna?

***