MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Manusia Kalong

Sebelas Juni 2016 punya arti sendiri di kalender hidupku. Satu titik balik hidup yang terjadi secara mendadak sebenarnya. Beberapa minggu sebelumnya aku tanpa persiapan daftar di salah satu perusahaan startup di Jogja–yang ternyata, lolos. Setelah beberapa kali tes akhirnya panggilan kerja datang secara tiba-tiba. Aku ambil shift malam dengan tanggungan kerja mulai jam 12 malam sampai 8 pagi waktu itu. Kenapa shift malam?

Pertama, karena aku butuh pekerjaan untuk support lanjut S2. Kedua, aku tipe orang yang bergantung pada insting dan firasat. Aku hanya pilih apa yang aku yakini atau daripada ragu lebih baik tidak sama sekali. Aku mantap pilih shift malam. Di Sale Stock–kantorku, panggilannya shift kalong. Jadi kalau kamu masuk shift kalong, otomatis panggilanmu kalongers dan kerjaannya ngalong.

Kita masuk ke menu utama: bagaimana mengatur hidup setelah jadi manusia kalong.

Kalau kamu kerja di shift malam, tiga minggu sampai tiga bulan pertama adalah masa paling berat. At least, berat untuk aku. Jam biologis mulai berantakan karena kerja malam ternyata jauh beda dengan hobi begadang tiap malam. Aku pulang ke kos dalam keadaan super lelah. Tidur tanpa mimpi indah dan bangun dengan badan demam kelas menengah. Akhir September 2016, badanku mulai menunjukkan protes keras. Butuh istirahat penuh beberapa hari sampai akhirnya bisa beraktivitas lagi. Finansialku juga mencapai titik rendah di bulan-bulan itu. Gaji 1,3 juta per bulan dengan tambahan 1 juta sekian sisa simpanan di rekening. Dan cukup. Sampai sekarang rasanya masih tidak percaya bahwa seorang aku bisa hidup di fase keuangan selemah itu. Tapi itu kali terakhir aku merasa inferior, karena merendah jelas bukan gayaku.

Per Oktober aku masih sakit-sakitan tapi mulai bisa atur waktu. Aku bisa jualan artikel lagi dan dapat pemasukan tambahan sebagai konten writer. Gaji sudah naik dan status juga sudah berubah dari masa probation jadi pegawai tetap. Dititik ini gaya hidup mempengaruhi keuanganmu di bulan-bulan selanjutnya. Aku tidak pernah secara kontan memangkas sejumlah uang dari gaji untuk ditabung. Tips konsultan keuangan di MetroTV untuk membagi pendapatan jadi tiga atau lima bagian, tidak cocok untuk aku. Tapi setiap kali aku dapat lembar 20ribuan, harus aku simpan dalam botol. Berapapun yang terkumpul dalam botol itu adalah hak yang harus dikembalikan ke dalam rekening tiap bulan. Harus. Ini perlu komitmen sama diri sendiri. Sesekali kamu harus rasakan sensasinya beli 5 mie instan pakai uang seratus ribuan, dan dapat kembalian 4 lembar 20ribuan.

Aku tertib puasa dan rasanya itu berpengaruh besar ke sirkulasi tubuhku yang jarang olahraga (Ke sirkulasi keuanganku juga sih). Tapi sebenarnya, aku jauh lebih sehat saat banyak aktivitas seperti ini. Apalagi kalau dibandingkan dengan jaman S1 dulu yang langganan masuk rumah sakit. Anehnya, aku jadi rajin minum air putih sejak mulai kerja di shift kalong. Bukan karena sok sehat atau apa, tapi air putih dingin rasanya lebih enak antara jam 12 malam sampai jam 6 pagi. Kok bisa ya? Kayak ada manis-manisnya gitu.

Sebenarnya bekerja di shift malam itu cuma perkara geser-geser jam biologis saja. Kalau manusia normal mulai beraktifitas di jam 5 pagi, hariku dimulai dari jam 11 malam dan pasti kepayahan setelah jam 4 sore.  Apalagi setelah mulai aktif kuliah. Biasanya aku berangkat ke kantor lebih awal, sekitar jam 8 malam mungkin. Sekedar numpang tidur di ruang call center yang tidak terpakai waktu malam. Mungkin karena sudah biasa, aku bisa tidur hanya 15 menit sebelum berangkat kuliah dan cukup nyenyak untuk membantuku fokus lagi. Aku pasang 5 alarm di HP untuk jaga-jaga kalau ketiduran. Maksimal aku tidur 6 jam sehari, itu pun kalau beruntung.

Waktu berjalan cepat sekali di Jogja. Tidak lama aku juga akhirnya bisa dapat beasiswa untuk bantu kuliahku. Hidupku mulai teratur–atau sangat teratur. Aku bahkan berani bilang bahwa kerja di shift malam memaksaku jadi lebih disiplin.  Rasanya seperti tidak ada pilihan lain kecuali harus disiplin sama diri sendiri. Aku menikmati weekend karena bisa tidur lebih lama. Hal paling tabu adalah menunda pekerjaan. Sekali kamu menunda dan terpaksa lembur atau mengurangi jam tidurmu–yang sudah kurang itu–bersiaplah mengalami minggu paling melelahkan. Aku makan lebih banyak, bergerak lebih banyak dan juga stress lebih banyak. Tapi kalau boleh jujur, aku justru berada dalam masa paling bahagia. Aku kuliah di jurusan yang aku idam-idamkan dan bekerja di lingkungan yang memperlakukanku seperti keluarga. Kantor adalah tempat paling nyaman setelah rumah. Kampus juga tempat yang nyaman setelah kantor dan kos. Nilainya sengaja aku kurangi 2 poin karena tiada hari tanpa tugas, diskusi dan response paper. Setiap lelah rasanya tidak sia-sia. Stress dan sakit macam apa pun aku syukuri, karena ingat jaman dulu suka iri sama orang lain. Iri sama orang-orang yang karirnya kelihatan mulus. Iri kalau lihat teman yang lulus S1 langsung bisa lanjut studi. Badanku memang tidak sekuat kelihatannya tapi mentalku sedang berada di kondisi paling prima. Itu yang paling penting menurutku.

Tapi..

Saranku, sebisa mungkin hindari bekerja untuk shift malam. Aku dan rekan se-shiftku pun 100% sadar bahwa kondisi ini tidak baik untuk kesehatan. Bukan sekali dua kali aku bangun tidur dengan nafas berat dan ngilu di ulu hati. Sering pusing dan nyeri bulanan jadi sedikit lebih menyiksa. Telapak tangan dan kakiku berkeringat jauh lebih intens dari biasanya, bahkan saat cuaca dingin.  Ada yang mulai berubah dari tubuhku dan aku bisa rasakan itu, entah di organ yang mana. Mungkin aku akan mulai penyakitan diakhir usia 20an dan jadi cancer fighter di umur 30an. Atau mungkin malah berakhir lebih awal. Aku mulai memaksakan diri untuk rutin berolahraga. Sedikit terlambat ditambah harapan semoga ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Cuma masalah waktu sampai aku benar-benar berhenti. Bagaimanapun aku masuk di perusahaan ini dengan baik dan ingin keluar dengan cara yang baik-baik pula. Bekerja di shift malam tidak aku rekomendasikan. Dan punya kesibukan diluar shift malam lebih tidak aku rekomendasikan lagi. Aku rasa ada dua hal yang mendorong seseorang bertahan di kondisi ini. Pertama, dia harus cukup berambisi untuk sebuah tujuan di hidupnya. Kedua, dia benar-benar butuh dukungan finansial. In my case, I have both of them.

***

 

2 Comments

  1. Hi Manda,

    This is the reason why I am proud of you. You are rock, Man! (not, Men). I am lucky to be your friend since you share your story here, so you inspire anyone who read this. Hope you stay healthy. And, next year I will read another story that you turn to shift “pagi” or you are just alumni of the kalongers.

    Good luck, buddy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2020 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑