Jika kepercayaan saya benar—dan saya sungguh meyakininya—maka kita, manusia, mampir di bumi ini bukan karena kebetulan. Apalagi kecelakaan.

Teorinya dalam agama saya, sebelum lahir ke alam dunia, di alam ruh, para ruh-ruh dihadapkan pada Tuhan dan diambil kesepakatan atas tiap-tiap ruh itu :

“Apakah kamu siap hidup di bumi? Apakah kamu berjanji akan begini, begini dan begini? Jika kamu berhasil hadiahmu adalah ini, ini dan ini. Tapi jika kamu gagal maka balasan untukmu adalah ini, ini dan ini.”
“ini adalah ujian untukmu. Apakah kamu yakin? Apa kamu benar-benar siap?”

Konon, jika pada akhirnya ruh itu turun ke rahim, bersemayam pada seonggok daging hingga lahir mewujud bayi manusia, artinya ketika di alam ruh, jawaban yang ia berikan adalah :
“Ya, saya siap”

***

Saya masih duduk di sekolah dasar ketika pertama kali saya bertanya pada teman sebangku saya :
“Eh, liat tanganmu deh, liaten coba… sadar gak sih kalau kita ini lagi hidup?”
Dan ia hanya merespon “Kowe kie ngomong opo to Nda?”

Setelah itu saya tak pernah bertanya lagi pada siapapun—karena saya pun mengakui itu pertanyaan yang aneh.

Tapi perasaan yang sama menghantui saya berkali-kali sejak saya belum mengenal agama saya saat ini. Sejak saya belum mengetahui tentang alkisah perjanjian kita dengan Tuhan itu. Hingga saat ini, perasaan itu terus muncul di saat-saat tertentu. Saat tanggal 1 misalnya. Saat terdiam setelah bangun tidur. Atau saat menghadapi masalah, tiba-tiba ada suara dalam otak yang berkata :

“Sialan. aku beneran lagi hidup ini.”

***
Saya tahu saya hidup. Tapi kadang saya tak sadar bahwa saya ini sedang hidup. Dan ketika kesadaran itu datang, ada sedikit rasa sesak karena menyadari bahwa saya ini adalah makhluk yang hidup untuk menjalani uji kelayakan.

Ck.. yang benar saja.

***

Kadang saya berfikir, apakah saya sudah punya bakat sombong sejak masih berwujud Ruh?

Kebanggaan apa yang saya punya waktu itu sampai-sampai dengan percaya dirinya setuju turun ke bumi? Kenapa sombong sekali ?! Padahal sekarang kewalahan dengan semua masalah hidup.

Atau jangan-jangan saya setuju karena iming-iming surga??–berarti ruh saya saat itu benar-benar mirip keponakan saya yang cuma mau dicium kalau diberi permen.

Kenapa saya setuju untuk hidup ?

***

.

.

.

.
Tapi akhir-akhir ini, justru karena pemikiran-pemikiran ini, saya mulai sadar bahwa saya tak lagi merasa keberatan dengan masalah-masalah hidup yang datang tanpa jeda. Kalau hidup ini memang ujian, maka saya akan menempatkan setiap masalah seperti ujian skripsi.  Kata sempurna sudah musnah dari kamus hidup saya entah sejak kapan. Betapa pun baiknya skripsi itu dikerjakan, ujungnya tetap saja ada revisi.

Gapapa.

Saya tidak perlu menyelesaikan semua masalah dengan sempurna. Tentu saja jika berakhir dengan nilai A itu menyenangkan. Tapi kadang, nilai C saja cukup asal sekadar bisa lulus.

Yeah. I am a bitter realist now.

***