Beberapa tahun belakangan—karena bingung mau mulai dari tahun mana—beranda facebook saya ramai lancar artikel-artikel tentang penemuan sains yang dikaitkan dengan ayat-ayat Al Quran. Status-status dan esai menarik yang mempertanyakan penalaran hukum agama juga bersaing ketat memanen ribuan jempol dan komentar. Ada 2 teman kuliah saya yang tiap ketemu—entah di dunia nyata atau dunia maya—selalu memperdebatkan dua hal ini: keimanan dan logika. Nama aliasnya adalah Beni dan Gopar. Saling nge-tag kalau bikin status. Lalu saling mengomentari dengan argumen-argumen destruktif yang memanaskan mata.  Kalau ditanya “apa sih yang kalian perdebatkan sebenarnya?”, maka jawaban keduanya sama:

“Kita gak debat, Nda. Kita cuma diskusi.”

Diskusi Mbahmu kui..!

***

https://whispersfromthelight.files.wordpress.com/2013/03/fork-road.jpg

https://whispersfromthelight.files.wordpress.com/2013/03/fork-road.jpg

Dalam kumpulan video-videonya di youtube, ada satu sesi tanya jawab Zakir Naik yang saya suka. Saya gagal menemukan link videonya lagi. tapi saya ingat inti dialognya diluar kepala.

Penanya:
Banyak sekali statement dan penelitian yang berusaha membuktikan bahwa Al Quran itu scientific. Bahwa ayat-ayat alquran itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Bukan hanya Islam, tapi agama lain pun melakukan hal yang sama. Mengapa Al Quran dan kitab-kitab tersebut berusaha membuktikan bahwa ia memenuhi standar scientific? Bukankah ini berarti bahwa Al Quran lebih rendah daripada science (ilmu pengetahuan)?

Dr.Zakir Naik:

Saudaraku, Al Quran turun sebagai kumpulan syair yang tak ada bandingannya, mengapa? karena pada masa itu masyarakatnya sangat memuja penyair dan syair-syair serta karya sastra berkembang dengan pesatnya. Karena itu al quran hadir sebagai karya sastra yang tak ada bandingannya agarmudah ditrima oleh nasyarakat kala itu. Bahkan kini pun Al Quran tetap dianggap sebagai karya sastra arab terbaik pada masanya. Hal serupa juga terjadi pada masa ini. Kita hidup dimasa dimana ilmu pengetahuan mencapai puncak popularitas. Karena itu banyak ilmuan mencoba membuktikan kebenaran islam dengan science, bukan karena science lebih tinggi, melainkan agar isi al Quran ini lebih mudah diterima oleh masyarakat masa kini.”

Kenapa orang ribut sekali memperdebatkan keimanan dan logika? Apa manfaatnya?

Saya suka jawaban Dr.Naik, bahwa karena masa ini adalah masa dimana semua didasarkan pada hal-hal yang scientific, maka Al Quran menyesuaikan dengan jamannya. Tapi saya juga suka dengan pertanyaan si penanya: Bukankah ini justru (hanya akan) membuktikan bahwa islam lebih rendah daripada science?

Ada 2 golongan dalam arus perang iman—logika ini. Yang pertama adalah mereka yang ingin membuktikan kehebatan Islam dengan uji scientific. Yang kedua adalah mereka yang ingin membuktikan kelemahan islam, juga dengan uji scientific. Padahal tujuannya sama: sama-sama ingin mempengaruhi satu sama lain. Kan lucuk!

Bagi saya, keimanan dan logika adalah 2 kubu yang berdiri sendiri. Logika dirancang diatas fakta-fakta dan bukti yang kasat mata atau fenomena yang berpola. Sementara keimanan lahir dan tumbuh dari kekuatan abstrak yang disebut ‘rasa percaya’.

Keimanan tak punya hak untuk mengekang luasnya logika sebagaimana logika juga tak punya kekuatan untuk melepaskan seseorang dari keimanannya. Sampai kapanpun logika dan keimanan tak akan bisa disandingkan sebagai pasangan yang sempurna. Jadi kenapa banyak yang ribut mempertanyakan keimanan seseorang hanya karena orang itu memberikan toleransi pada komunisme dan LGBT? Dan kenapa banyak yang mencibir logika seseorang hanya karena ia percaya bahwa memakai celana dibawah mata kaki akan membawanya ke neraka?

Keimanan dan logika adalah dua alat hidup bagi manusia. Bagaimana mereka menggunakannya atau mana yang mendominasi jalan hidupnya, itu hak prerogative per individu. Standar batas antara keimanan  dan logika juga berbeda karena ditentukan oleh masing-masing individu dan berlaku untuk dirinya sendiri. Setiap orang bebas berpendapat. Masalahnya adalah ketika kamu berusaha memaksakan standarmu dan menginvasi territori orang lain dengan dalih diskusi. Kalau kamu punya kecerdasan logika dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, maka berhentilah mengurusi keimanan orang lain karena keimanan adalah wilayah yang tidak kamu kuasai. Begitu pula kalau kamu merasa memiliki kekuatan iman untuk berdakwah, mbok ya diingat, inti dari dakwah adalah mengabarkan dan mengingatkan, bukan menghinakan yang tak sejalan.