Malam Minggu tanpa jadwal pacaran dan deadline kerjaan adalah waktu yang tepat untuk mikirin yang bukan-bukan. Sedang asik dengerin cover lagu malah keinget detik-detik hampir jadi guru. Cuma kepikiran aja: apa jadinya kalau aku tetap jadi guru sejarah ya?

Aku magang PPL jadi guru sejarah SMA di tahun 2013. Satu atau dua tahun sebelumnya, aku lupa sih, salah satu kakak tingkat yang juga lagi magang di sekolah mana gitu, ngeluh sama temennya–mereka saling curhat gitu sih soal keanehan murid-muridnya, aku nguping aja. Intinya adalah dia ditanyain sama muridnya, mana yang benar antara Al Quran (nabi adam) VS teori darwin (manusia purba). Itu pertanyaan klasik banget dan aku gak tahu apakah pertanyaan tersebut masih relevan untuk ditanyakan saat ini? Kalau itu ditanyakan ke aku versi 7 tahun yang lalu, ya aku gak tahu gimana jawabnya. Gimana kalau aku jadi guru ditanya kayak gitu dan ngasih jawaban sesat?
Batal jadi guru sepertinya memang pilihan yang tepat. 

Dulu, ada tendensi yang tidak mengenakkan dari pertanyaan tersebut, seolah-olah kalau mengakui Teori Darwin maka sama saja dengan menghina Tuhan. Aku mengalami tahun-tahun dimana otakku dicuci sama Harun Yahya. Dulu memang follower-nya banyak. Materi-materi Harun Yahya jadi langganan presentasi ESQ sebelum musim ujian yang ujungnya nangis-nangis gitu.

Lalu malam ini, saat aku kepikiran tentang itu lagi, aku baru sadar kalau di otakku udah ada jawabannya. Versi aku ya. Jadi mana yang benar, Teori Darwin atau Penciptaan Nabi Adam?

Jawabannya: Keduanya benar jika digunakan dalam koridornya masing-masing dan memang gak seharusnya dipertentangkan satu sama lain.

Teori Evolusi Darwin dan Penciptaan Nabi Adam based on AlQuran itu bukan perbandingan yang apple to apple.

Sebagai bagian dari sains, teori disusun melalui proses pencarian data dan fakta, untuk kemudian divalidasi melalui proses analisis keilmuan yang panjang. Sementara kisah penciptaan Nabi Adam dalam AlQuran divalidasi melalui klaim keimanan yang sifatnya privat. Tanpa tambahan data atau fakta, kamu berhak bahkan wajib percaya dan meyakininya sebagai bagian dari konsekuensi beragama. 

Kita butuh akal untuk bersikap dalam kehidupan beragama. Ilmu tanpa agama itu buta, sementara beragama tanpa ilmu itu lumpuh.  Tapi bukan berarti keduanya bisa dicampur-aduk dan diadu tanpa dasar yang jelas. Apalagi jika hanya untuk diperdebatkan dan tidak memberi sumbangan kemajuan sama sekali, baik untuk keilmuan atau agama itu sendiri. Harun Yahya bisa sukses menipu banyak orang dengan pseudoscience-nya karena dia menyadari besarnya hasrat pemeluk agama untuk memvalidasi keimanan melalui sains. Padahal konsep iman kan gak kayak gitu. Iman itu ya ketika akalmu belum bisa menjelaskan secara logis, tapi kamu tetap percaya. Untuk sampai ke titik percaya itu kamu gak butuh validasi dari siapapun.

Sebagai peneliti, Darwin juga tidak membuat klaim final. Saat ia merilis buku tentang nenek moyang manusia yang disebut berasal dari kera pada 1871, karya itupun banyak celahnya: fosil kerangka ‘manusia kera’ yang utuh belum pernah ditemukan. Baru 20 tahun kemudian fosil pithecantropus erectus ditemukan oleh Eugene Dubois di Pulau Jawa dan penemuan inilah yang kemudian melengkapi Teori Darwin. Jadi itu cara kerja teori: dia ada sebagai suatu sistem konsep yang digunakan untuk membuktikan sebuah fenomena. Teori tuh cuma pondasi, bisa disempurnakan dengan pembuktian atau dipatahkan dengan argumen bantahan yang juga butuh pembuktian. Penggunaan teori pun ada pada koridor-koridor akademis yang memiliki batasan yang jelas. Karena itu, Teori Darwin gak akan bisa berubah jadi ‘agama’ baru yang mutlak kebenarannya. Jika ingin mematahkan Teori Darwin, maka patahkan melalui jalur sains yang jelas: buat hipotesis baru, lakukan penelitian dan cari bukti baru, ciptakan teori baru. 

Ada yang percaya kisah penciptaan Nabi Adam, ada juga yang enggak dan itu tergantung pilihan keimanan masing-masing. Begitu juga sebagai sebuah teori, kalau kamu mau meneliti secara scientific tentang asal usul makhluk hidup, kamu bisa memilih mau pakai Teori Evolusi atau enggak. Thus, mengakui hasil kerja Darwin dan keilmuannya dalam teori evolusi tidak serta merta membuat seorang yang beragama jadi auto-murtad.

***

AV