MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Waktu Yang Baik Untuk Menangis

Di sela waktu kerja malam ini, sempat-sempatnya aku nonton film lagi. Mungkin tidak akan buang waktu kalau yang ditonton adalah film baru atau yang sama sekali belum aku lihat. Tapi ini film lama. Bhajrangi Bhaijaan (2015). Ini ketiga kalinya kalau tidak salah. Bahkan setelah tiga kali menonton film yang sama, dengan cerita yang sama, suara, gerak dan langgam yang sama, aku masih menangis juga.

 

Akhir-akhir ini aku banyak menangis sebenarnya. Banyak, sampai di titik aku menduga bahwa bisa jadi aku menderita depresi ringan. Kadang karena rindu, karena sakit hati, karena tanggungan thesis, karena lelah, kadang juga air mata keluar sendiri tanpa ada sebab. Dari banyak itu, malam ini aku baru sadar, tidak semua tangis punya daya magis untuk meluruhkan beban. Kalau ada yang bilang padamu: Menangislah-luapkan-semuanya-biar-lega, jangan langsung percaya.

Iya, tentu saja menangis bisa jadi pelarian sesaat. Efek samping yang menjadikan tangis sebagai opsi pelarian emosi adalah bahwa setelahnya kamu akan mengalami 2 hal: mengantuk atau lapar. Air mata adalah bagian dari tubuhmu juga. Mengurasnya akan membuatmu kehabisan tenaga, apalagi kalau tipe tangis yang dipakai (?) adalah yang membutuhkan suara meraung dan gerakan tangan kaki yang masif.

Jangankan itu, yang sok-sokan menahan tangis dibawah bantal dan berakhir sesenggukan juga tidak kalah capeknya. Kamu sadar tidak kalau menangis setengah-setengah itu menyiksa hampir separuh otot tubuh bagian atasmu?

Pertama otot matamu memerih, menahan menutup kelopak matamu karena itu sama saja dengan memeras cadangan air yang ada di kantung mata. Kedua, otot rahang dan bibirmu menegang, berteriak minta dilepaskan sementara kamu menahan diri untuk menutup suara rapat-rapat. Akibatnya, ketiga, seluruh otot wajah dari dahi, belakang telinga sampai leher mengalami tekanan tarik ulur yang intens. Keempat, paru-parumu bekerja ekstra karena nafasmu jadi tersengal-sengal dan menarik otot lambung serta bahu untuk bergerak dalam ritme yang tidak beraturan. Jika ini terjadi secara kontinu, maka kamu akan mengalami penuaan dini dan kurus dadakan.

Sebutlah kamu menangis karena suatu masalah, pertengkaran tak terduga, penyesalan atau sakit yang luar biasa, kamu meraung, mengeluarkan segala emosi dan berusaha tenang setelah mendengar kata maaf. Tapi pada akhirnya kamu sadar, maaf tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Kamu masih punya beban menggantung diujung hati, di setiap sel otakmu bahkan. Mengendap disitu dan siap meledak sewaktu-waktu.

Diantara waktu-waktu yang terpakai untuk menangis, waktu terbaik adalah menangis gara-gara menonton film. Menangislah karena menonton film: akar masalahnya jelas, konfliknya jelas dan akhirnya juga jelas. Kamu menangis untuk sesuatu yang pasti dan layak ditangisi. Menangis karena hasil usaha, darah dan keringat semua orang dibalik pembuatannya. Tangismu selesai bersama dengan transisi ending menuju kredit film. Beban penyebab tangis terangkat di pertigaan anti-klimaks menuju akhir cerita. Aku sendiri sudah lama tidak menangis dengan perasaan seperti malam ini. Menangis karena film adalah tangis yang magis, melegakan,
menyenangkan.

Kalau bagian pengalaman diatas masih terlalu klise untuk diaplikasikan pada keseharian karena motifnya kurang kuat, waktu baik lain yang bisa dipakai untuk menangis adalah pada jam 7 sampai 10 malam. Kalau yang ini ada penelitiannya. Tipe tangis yang sudah mengeluarkan banyak tenaga diatas itu disebut Dr. Aaron Neufeld sebagai Psychic tears dan bisa dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan menurut Dr. William H. Frey dari Minnesota. Jadi ketika emosimu dipermainkan (?) secara aktif tubuh akan merilis adrenalin dan cortisol. Cortisol membutuhkan tenaga untuk keluar dan tenaga ini diperoleh dari membakar cadangan lemak. Kenapa pilihannya jam 7 sampai 10 malam? Karena ini adalah waktu puncak untuk memaksimalkan efek proses kimia demi kurus tanpa olahraga. 

***

Asik kan sekolah tinggi-tinggi? Mau curhat nangis aja pake referensi.

Jeffrey P. Gilbard, MD. Crying: The Mystery of Tears. Arch Ophthalmol. 1986;104(3):343-344

2 Comments

  1. Aku anaknya tuh pinginan nangis tapi selalu aja gak bisa nangis. Gak pernah maksa juga sih. Tapi tetep kudu mancing biar nangis. Bukan nonton film, tapi baca cerita. Sampe2 beberapa koleksi buku kutandai buat pancingan nangis. Dan buku2 yang kayak gitu gak pernah boleh dipinjem teman. Haha, takutnya tar pas pengen nangis harus nagih bukunya dulu kan gak jadi nangis malah kesal gara2 novelnya dipinjem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2019 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑