Kalau kata para penulis cerita romansa, unsur yang menguatkan manusia adalah kemampuannya untuk memilih. Iya, kita diberi pilihan dan kebebasan untuk memilih. Dan sejujurnya aku begitu lelah mendapat pertanyaan yang sama : “Kenapa masuk sejarah?”, “Kenapa pilih jurusan sejarah”. Karena jawaban yang sama pun seolah tak pernah bisa memuaskan mereka yang bertanya. “Karena aku suka sejarah”, “Karena dari dulu memang ingin jadi guru sejarah”, “Karena terisnpirasi oleh guru sejarah SMP ku dulu”…. bla bla bla dan jawaban itu hanya memunculkan pertanyaan baru, baru lagi dan baru lagi.

Mereka menunggu pernyataan yang sama. “Masuk sejarah karena memang hanya keterima disitu”, lalu tawa pun pecah seketika bersambut hening yang menjelma.
Jika aku harus jadi pendidik, aku akan mengajar ilmu yang aku tahu. Mengajar materi yang aku kuasai. Menjadikan mereka paham tentang apa yang aku pahami. Memupuk kecintaan mereka pada apa yang aku cinta. Dan itu adalah sejarah.

Tapi bagaimana masyarakat kita mengenal sejarah?

Mereka hanya tahu, sejarah adalah tentang masa lalu. Sejarah adalah tentang kemegahan kerajaan-kerajaan terdahulu. Sejarah adalah tentang perebutan tahta. Sejarah adalah tentang kisah cinta para penguasa. Sejarah adalah tentang makhluk-makhluk purba. Sejarah adalah tentang sisa-sisa tulang, sisa-sisa piring, sisa-sisa kulit kerang dilapisan bebatuan. Sejarah adalah tentang kata bosan, tentang lantunan narasi dongeng pengantar tidur. Belum ditambah bonus generasi guru sejarah yang galak, sadis dan memaksa kata demi kata menyesak memori dengan label ‘hafalan’.

Banyak hal yang salah dalam sejarah kita. Banyak hal yang belum terungkap dalam sejarah kita. Banyak hal yang tersembunyi dalam alur cerita sesungguhnya. Tak semua disampaikan, tak semua diungkapkan. Itu adalah fakta, dilema yang menghantui hidup mereka yang menjadi guru sejarah. Kala tahu ada yang bersembunyi, sesuatu yang tak pantas disembunyikan. Sementara kurikulum memaksa kami menjaganya tetap tersembunyi.

Semester tiga dalam kelas Sejarah Agraria. Satu memori menyentak dari bibir seorang dosen paruh baya. “Sejarah kita hanya menceritakan sejarah para raja. Sejarah tokoh. Sejarah orang-orang besar. Tapi melupakan sejarah orang-orang kecil. Sejarah Rakyat”.

Sejarah selalu menggambarkan betapa megahnya kerajaan-kerajaan berdiri. Betapa luas dan canggihnya teknologi purwarupa pembangun candi-candi. Betapa hebatnya peperangan yang dipimpin para raja dan patih. Namun, sejarah tak pernah menampilkan betapa berat derita rakyat yang hidup dibawah tekanan penguasa. Sejarah tak pernah menghitung berapa nyawa yang dikorbankan dan mati kelelahan kala membangun candi dan puri. Sejarah lupa mencatat bahwa dalam tiap kemenangan ataupun kekalahan para penguasa, ada lautan darah prajurit terlatih dan tentara karbitan yang tumpah sia-sia.

Inilah sudut pandang baru Sejarah Indonesia. Sejarah rakyat, sejarah para penderita. Paradigma baru yang telah dirintis namun tak kunjung dirilis. Tersudut oleh alasan kepentingan umum dan terbelenggu kurikulum. Sejarah masih tentang polemik mitos, politik dan kuasa. Sejarah masih tentang legitimasi para penguasa. Masih tentang hafalan tahun, nama dan peristiwa. Bukan tentang makna, bukan pula tentang menghindari kesalahan yang sama. Ini paradigma baru sejarah kita. Paradigma kejujuran dan keterbukaan dalam sejarah. Bukan hanya tentang nilai etis kejayaan sehingga derita rakyat disingkirkan. Bukan hanya perkara legitimasi kuasa, hingga kejahatan penguasa dilindungi epik rekayasa. Banyak yang harus dirubah karena keabadian hanya milik perubahan.

Suatu saat sejarah tak lagi tentang hafalan tapi tentang pemahaman. Paradigma itu telah dimulai.. dan akan diterapkan..

Nanti..

Di waktu yang tak pasti.