Kemarin lusa, saya mampir ke rumah kawan lama. Jelang magrib, ibuk—ibu teman saya—menawari teh atau susu hangat untuk buka puasa. Saya bilang saya mau air putih saja, sedang tidak berselera berbuka dengan yang manis—maunya sih berbuka dengan yang ganteng. Lalu ibuk menawari lagi “Kalau air tajin mau nyoba ndak ?” dan saya mengangguk cepat-cepat. Mungkin sudah belasan tahun saya tidak minum air tajin. Air tajin itu air rebusan beras. Sebelum tanak, mengering dan berubah jadi nasi, air rebusan beras biasanya memutih dan mengental, air ini yang diambil. Mamak saya biasanya hanya mengambil airnya, menambahkan gula pasir dan sedikit garam. Tapi si ibuk bukan hanya menyisihkan airnya saja, melainkan mengambil sedikit nasinya juga. Setelah ditambah gula—gulanya pakai gula jawa–jadinya semacam dawet nasi (?) hangat gitu lah. Cukup satu gelas kecil, kenyang sudah.

Sekitar awal 1998, tak jauh-jauh dari bulan kelahiran saya, resmi saya tak lagi menikmati susu dancow. Bukan karena ingin, tapi karena terpaksa. Itu merk terbaik dan terenak dari sekian produk susu yang ada saat itu. Saya adalah pecintanya dan apa yang membuat saya terpaksa lepas darinya? Tentu saja gara-gara krisis moneter. Mamak kemudian menggantinya dengan teh yang notabene tidak terlalu saya suka. Sebagai alternatif, mamak mulai membuatkan saya air tajin manis—dan ini jauh lebih baik daripada teh.

Meskipun katanya banyak nutrisi, tapi tetap saja, beralih dari susu ke air rebusan beras terasa begitu nyesek jika melihatnya dari konteks perubahan ekonomi. Kala macan asia menutrisi bayi-bayinya dengan air tajin dan hutang negara.

***

https://wiki.smu.edu.sg/1213T2is427g1/img_auth.php/thumb/d/da/Asianfc.png/700px-Asianfc.png

https://wiki.smu.edu.sg/1213T2is427g1/img_auth.php/thumb/d/da/Asianfc.png/700px-Asianfc.png

Periode 80-90an, mayoritas modal negara berkembang terakumulasi di kawasan Asia. Maksudnya negara-negara berkembang mulai menapaki kemajuan dengan banyaknya penanam modal di Asia. Sayangnya, beberapa negara seperti Indonesia dan Thailand memiliki mata uang yang sangat bergantung pada US dollar—karena banyaknya pinjaman dollar—dan memiliki kerawanan ekonomi yang disebut current account deficit—sebuah kondisi dimana aktifitas impor lebih banyak daripada ekspor. Data World Bank 1998 menyatakan bahwa sepanjang 1992-1997, 80% peningkatan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta. Awalnya tidak ada masalah karena banyak investor asing di Indonesia.

Pada 1982 Amerika latin mengalami masalah krisis finansial—serupa tapi tak sama karakteristiknya dengan krisis yang akan terjadi di Asia. Dikenal dengan istilah ‘the lost decade’—begitu parahnya kehancuran dari krisis yang melanda, sehingga kemakmuran yang diraih pada dekade sebelumnya seolah raib begitu saja. Banyak investor mengalami kerugian besar-besaran. Mungkin tidak ada yang menduga bahwa Asia akan mengalami krisis serupa itu, sebagaimana diungkapkan Paul Krugner. Negara-negara berkembang di Asia kala itu begitu percaya diri bahwa krisis di Amerika Latin tidak akan mempengaruhi kemakmuran mereka. Sayangnya, yang tidak diharapkan justru terjadi.

Bath Thailand ‘tersandung’ dan anjlok pada bulan Mei 1997. Domino krisis mulai menyenggol Indonesia dan negara-negara lain di Asia Timur dan Tenggara. Investor-investor asing mulai menarik modal. Awalnya satu investor, lalu satu demi satu latah menyusul dengan dalih ketidakamanan investasi di Asia. Bulan Juli ke Agustus 1997, rupiah perlahan melemah. Pribumi-pribumi terdidik yang mengerti gejala ini bereaksi mengambil langkah menyelamatkan diri dengan beramai-ramai membeli dollar, yang justru semakin menghempaskan rupiah kedalam sumur depresiasi nilai tukar.

Datang bak penyelamat, IMF menawarkan bantuan pinjaman dengan jumlah super fantastis pada negara-negara yang bangkrut kala itu, termasuk Indonesia. Dengan percaya diri negara kita menerimanya—hutang besar jangka pendek. Meski disebut mampu menyelamatkan ekonomi kita kala itu, tetap saja akhirnya berujung pada pergolakan politik dan massa—serta hutang negara yang terus membengkak. Bayangkan saja, kita diberi pinjaman milyaran dollar ketika rupiah melemah dan harus mengembalikannya setelah rupiah menguat. Belum lagi suku bunganya yang dinaikkan oleh IMF. Yang kita kembalikan jauh lebih banyak dari yang kita pinjam. Di logika orang yang tak paham ilmu ekonomi macam saya, kita jelas rugi berkali lipat. Malaysia—yang menolak bantuan IMF—menjadi negara pertama yang bangkit dari krisis. Pasca turunnya Presiden Suharto (sebesar apapun dosanya, saya tidak bisa berhenti respek sama beliau) sentimen anti barat mulai berkembang lagi dengan IMF sebagai kambing hitamnya. IMF sendiri menyebut krisis Asia atau krisis moneter di Indonesia sebagai ‘tumbal’ kemakmuran yang kita dapat sebelum itu.

***

Beberapa bulan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah perlahan. Banyak artikel-artikel yang beredar di dunia maya, semuanya mengantisipasi dan menduga-duga kedatangan ‘Krisis Moneter season 2’. Saya dan keluarga cukup beruntung, saat krisis moneter 1997 terjadi kami berada jauh di tanah Papua. Efek dari krisis moneter kala itu tak terlalu berdampak pada kehidupan kami disana. Beda cerita dengan kerabat dan kenalan yang bermukim di Jakarta. PHK dan kenaikan harga-harga menjungkirbalikkan hidup mereka. Saya beruntung air susu hanya berubah jadi air tajin. Mungkin di pulau lain kala itu, ada anak yang tak lagi menemui susu dancow di meja makan pada suatu pagi dan tak ada apa-apa lagi di pagi-pagi berikutnya.

Beberapa minggu terakhir rupiah menguat meski dengan merangkak. Nilai jual hari ini berada di angka 13.902 rupiah pada 23 Oktober 2015. Saya pikir, seburuk apapun pemerintahan kita menjalankan manajemen ekonominya, saya tidak bisa berhenti berharap dan percaya pada pemerintah. Bahkan keledai sekalipun tidak akan jatuh di lubang yang sama. Iya kan ?

Semoga sih.