MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Category: Monolog (page 1 of 5)

Mati enak kali, ya?

IYA.

Continue reading

Ramadan #1

Mbak Janah ki uripe penak tenan ya mbak ya? Iri tenan aku” Kata Hesti suatu malam, dalam panggilan video group paling tidak jelas yang kuladeni semasa WFH ini.

Continue reading

Silent Rage

Judulnya harusnya berbahasa Indonesia karena konten tulisannya juga ditulis dalam bahasa. Tapi sampai akhir tidak ketemu juga frasa bahasa yang tepat untuk mewakili apa yang mau kutulis. Jadi yasudah. Lagipula ini tulisan curhat yang numpang lewat. Continue reading

Dear Cecilia..

Tulisan ini harusnya dirilis tanggal dua puluh tujuh Januari
Mulai kutulis pagi-pagi pukul tiga dini hari.  Tapi ia tak selesai, tersingkir oleh notifikasi deadline lain yang secara otomatis jadi alarm darurat di otak. Maklum yaa, aku juga kadang mempertanyakan apakah jalan hidup ini yang paling baik, karena lebih sering justru membuatku menyingkirkan hal-hal lain yang lebih penting. Sepenting hari ulang tahunmu, misalnya. Continue reading

Radheya Karna

Bharatayuda atau Mahabharata bukan legenda, melainkan sebuah karya literasi. Pengarangnya Resi Vyasa atau Begawan Byasa. Konon, Begawan Byasa  membutuhkan seseorang yang mampu menulis dengan cepat, secepat plot cerita muncul di otaknya dan secepat rangkaian kata-kata keluar dari bibirnya. Tapi tidak satu manusia pun mampu mengimbangi kecepatan pikiran manusia lain. Maka Begawan Byasa meminta pertolongan Dewa Ganesha. Kesepakatannya, Ganesha akan menulis kisah ini dengan didikte oleh Begawan Byasa, tanpa berhenti sama sekali. Maka dimulailah penulisan kisah ini. Begawan Byasa bercerita dan Dewa Ganesha menulis dengan amat cepat. Continue reading

Sebutir Nasi di Malam Minggu

Prolog.
Sejak lima bulan lalu ada yang tidak beres dengan lambungku. Aku tidak bisa makan nasi dalam porsi besar lagi. Oh No! porsi ‘normal’ pun tidak. Cepat kenyang. Lambungku bisa menampung lebih jika dipaksa, tapi berujung masalah akhirnya. Dokter bilang cuma perkara metabolisme saja, lambungku tidak bisa lagi menyerap karbohidrat dengan baik. Efek begah dan mual muncul, walau tidak sampai muntah. Tapi tubuhku masih butuh. Jadi aku harus makan sedikit-sedikit dan sering. Sejak itu porsi makanku terpangkas separuh lebih. Aku lebih banyak makan di RM prasmanan supaya bisa ambil porsi nasi sendiri. Momen yang bikin aku benci karena hampir setiap orang bertanya apa aku sedang diet. Mereka yang sinis sama berat badan, malah aku yang dituduh insecure? Continue reading

Someone Behind The Scene

Once after a lunch session on a visit to a local monastery, Mr. Vanderbilt said something that strengthened my sense of happiness. “Maybe in the next twenty years, I will see you in the ranks of leaders in Indonesia”, He said.
I am happy, even now. Continue reading

Politik Bagiku Adalah…

Sumur dengan pusaran air kotor. Ia siap menenggelamkanmu jika kamu takluk diantara arusnya.

Aku baru saja mengatur filter pertemanan di media sosial yang aku punya. Menyingkirkan segala pembahasan tentang politik yang menjurus ke arah anarki. Ternyata ini melelahkan karena mayoritas teman-teman dunia mayaku adalah simpatisan kubu nomor 1 dan nomor 2.
Aku tidak suka politik, tapi ada beban moral sebagai warga negara untuk setidaknya paham tentang perkara yang satu ini. Continue reading

Sebuah Nama di Sembilan Belas Enam Lima

Namanya Soekasbi. Sulung lima bersaudara. Continue reading

Ketinggalan Di Rumah

Tabu bagi sebagian orang adalah jika berurusan dengan rokok, seks dan narkoba. Sementara tabu bagiku adalah membawa pekerjaan ke rumah. Rumah yang aku maksud adalah rumah orang tuaku. Aku mulai keluar dari rumah sejak S1, sejak mulai kos karena kebutuhan kuliah. Sejak itu pula, pantang bagiku untuk pulang selama masih banyak tanggungan tugas kuliah. Hal ini berlaku sampai sekarang dan untuk jenis tugas/pekerjaan apapun. Karena percuma juga, malah mengganggu saja. Continue reading

Older posts

© 2020 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑