– Prolog –

Suara sahutan burung jalak mengiring lengsernya matahari ke arah barat. Derap langkah lincah menyusuri jalan setapak di pinggir Alas Rubat. Cuaca tak lagi terik, kaki mungil menapak ringan seperti lenggang kuda yang tak payah ditarik. Tak juga tampak lelah meski dirinya baru saja menuruni lereng timur Gunung Kawi. Kedua tangannya menggenggam erat tali rotan pengikat bubung bambu yang tersampir di punggungnya. Bubung bambu itu panjangnya bahkan hampir separuh tubuh orang dewasa. Sesekali saat ia melompat, percikan beraroma manis asam keluar dari bubung bambu itu.

Tuak legen.. kesukaan Mbah-nya.

Sebagai anak laki-laki, bukannya tak cukup nakal untuk meneguk barang sedikit. Ia hanya tak cukup penasaran. Ia pernah menyicip, dulu sekali. Rasanya tak semanis aromanya. Pahit, sepahit kenangan di hari yang sama.

Lalu kakek macam apa yang membiarkan anak kecil mengambil minuman keras langsung dari tempat penyulingannya di lereng Kawi? Tidak. Ia tak akan membiarkan seorang pun berprasangka buruk pada Mbah-nya. Bubung bambu dan seluruh isinya adalah sebuah hadiah. Hari ini ia sedang dalam sebuah misi. Misi untuk menaklukkan hati sang kakek. 

*

Pendopo di barat Desa Karuman selalu ramai dari siang hingga petang. Saking ramainya, tempat ini sering dikira pasar oleh para pedagang desa lain yang melintas. Keramaian itu sumbernya dari arena perjudian, milik bandar judi berjuluk Mbah Karuman. Di masa lalu ia hanyalah seorang penjudi biasa yang kemenangannya untung-untungan. Tapi kini selain sebagai pendosa yang mengelola tempat judi, ia juga menjadi pengayom yang disegani. Begitu disegani hingga nama desa disematkan dalam julukannya saat ini. Hidupnya mulai berubah sejak ia yang hidup sebatang kara, memutuskan untuk mengasuh seorang anak laki-laki..

Sore itu Mbah Karuman sedang mengawasi aktivitas arena judi, ketika suara kuda yang meringkik karena dipaksa berhenti turut menarik perhatiannya. Seseorang berbalut jubah sewarna gula aren turun dari kuda. Mbah Karuman melangkah tergesa menyambut dengan senyum yang mengembang lebar dan berujar..

“Ee..e..e.. Apa jangan-jangan semalam aku mimpi kejatuhan purnama? Sampai-sampai kedatangan tamu ageng hari ini.”,

“Ki..”, Tamu tersebut menunduk sekilas memberi salam. “Apa kabar Ki?”, pertanyaan tersebut disambut pelukan erat dari empunya rumah.
“Ayo ikut ke belakang. Jangan disini, tak baik orang sepertimu tercemar papa“.
“Sebentar Ki, kuda ini ha-..”
“Haalah tah!.. Rek! Darek!..Segera kamu urus kuda ini dengan baik”, perintah Mbah Karuman pada salah satu pesuruhnya. “Njih, Mbah.”.
“Sudah to? Ayo!”, sang tamu tertawa ringan saat dipaksa segera mengikuti langkah lelaki tua didepannya.
Dengan sumringah layaknya anak dan ayah yang lama tak jumpa keduanya berjalan menuju area belakang pendopo. Ada pagar tinggi yang membatasi arena judi dan rumah tempat Mbah Karuman dan cucunya tinggal.

*

Setelah membersihkan diri sang tamu menyusul Mbah Karuman yang menunggunya di depan rumah. Duduk menyandar pada dinding anyaman bambu dan alas duduk yang memanjang dan lebar, dari kepadatannya seperti terbuat dari kayu jati. Mbah Karuman memandang jauh pada sinar lembayung yang berpendar dibalik Gunung Kawi. 

“Rumah ini memiliki harta karun rupanya. Aku juga ingin sampai mati bisa menghabiskan hari dengan menikmati pemandangan seperti ini Ki..”
Mbah Karuman mengalihkan pandangan pada tamunya yang kini tak lagi mengenakan jubah, tapi masih dengan pakaian berwarna senada.
“Hahahaha…yaa ya..memang harta karun. Tapi harta karunku yang sebenarnya belum pulang. Entah bermain dimana dia hari ini.”
Sang tamu mengernyit, “Ada harta karun lain?”
” Cu-..”
“Mbaaaahhhhh!!”, keduanya tersentak mengalihkan pandangan ke arah suara nyaring yang memanggil. Seorang anak kecil berlari pelan sambil memeluk bubung bambu. Mbah Karuman menoleh pada tamunya sekilas dan berbisik diantara senyum..”Jaka. Cucuku..”
“Mbaahhh!!”
“Yaaaa…Ee..ee..e bawa apa ini hee??!”
Anak kecil berambut sebahu itu hanya meringis dan membiarkan tangan keriput mengambil beban beratnya. Matanya berbinar menunggu reaksi sang kakek. 
“Eee..ee..e.. main jauh sekali” ujarnya saat mencium aroma yang keluar dari bubung, kemudian menuangkan sedikit isinya ke tutup bubung dan meneguknya.  “Ahh..”, ekspresi puasnya menunjukkan betapa tuak yang ia minum adalah kualitas terbaik yang hanya bisa didapat dari ‘panen’ aren pertama. Tersenyum ia memandang bocah dengan pipi tembam di depannya, lalu sedikit mengernyit saat melihat pipi itu makin lebar merekah senyum hingga sebagian gigi kelincinya kelihatan.
“Hmm.. Njaluk opo?”
Ini dia kesempatan yang ditunggu-tunggu..
“Mbah,… Setelah peken pasar purnama nanti, Tita akan ikut Boponya mengambil barang dagangan dari Desa Weliran. Bopo Sanggeh bilang ia akan menceritakan banyak kisah selama perjalanan. Semua pekerja mereka juga ikut. Paman Rangkut juga, katanya akan mengajari kami berkelahi kalau aku mau ikut. Jadi…- “
“–jadi kau mau ikut?”
Setengah menunduk takut-takut, Jaka mengangguk. Memelas.
Mbah Karuman menghela nafas panjang dan mengangguk. Mata Jaka berbinar dan hampir melompat girang sebelum tersentak melihat sosok lain di situ. Saking antusiasnya ia sampai tak menyadari ada orang lain di rumahnya. Mbah Karuman tertawa melihat reaksi polos cucunya.
“Hahahaha…sini sinii ini tamu ageng namanya-..”
“–Lohgawe.”
Kali ini Mbah Karuman yang tersentak karena ucapannya dipotong suara berat dari tamunya. Sang tamu mendekat menepuk bahu lelaki kecil dihadapannya. 
“Panggil aku Paman Lohgawe.” 

***

Chapter 1

Gegabah Sira!”
“Hm? Gegabah bagaimana Ki?”
“Dia itu masih kecil, tapi ingatannya kuat. Bagaimana kalau kelepasan buka mulut dan menyebut namamu diluar sana??”
“Memangnya kenapa Ki?”
“Ee..ee..e.. ya apa kata orang kalau seorang Pandita kerajaan bergaul dengan bandar judi?!”
Lohgawe tersenyum lebar. “Apa yang salah? Bandar judi atau bukan, aku akan tetap mengunjungimu disini..hahaha.”

Ia menyesap minumannya perlahan. Lalu hening sesaat.
“Kalau bukan karenamu Ki, namaku sudah lama hilang.
Hilang bersama nyawaku.”

“Ehhm..hhh..”
Mbah Karuman berdeham melegakan tenggorokannya yang kering terkuras emosi sesaat. Sebelum menyesap minuman hangat dan menerawang ke masa lalu. Bagaimana ia bisa lupa. Pria dihadapannya ini lahir di keluarga yang berwibawa, besar dan disegani. Keluarga brahmana, pendeta. Bukan pendeta biasa, melainkan keluarga penasehat kerajaan. Leluhurnya turun temurun mengabdi pada kerajaan Jenggala. Setelah pecah perang antara Jenggala dan Kadiri, segalanya berbalik arah.

Pengikut Jenggala terpencar untuk menyelamatkan diri setelah kekalahan demi kekalahan. Keluarga Lohgawe pun tercerai berai. Ia menemukan pemuda itu hampir telanjang dengan tubuh kurus kering, tersesat di hutan. Bukannya mencari makan malah membisu bertapa brata. Mbah Karuman tak mengerti cara hidup seperti itu. Mungkin jika seseorang terlahir di keluarga yang besar, maka pengorbanannya juga harus besar. Entah mana yang lebih menyakitkan: Mashyur tapi dekat dengan kematian atau berumur panjang meski hina seperti dirinya. Untungnya, Brahman tetaplah Brahman, selalu ada tempat untuk Lohgawe memulai kembali hidupnya. Di wilayah Tumapel inilah ia mengasah kembali darah istimewanya.

“Ki?…”
“………”
“…Ki? Ki Bango Samparan!”
“Hah??”, kaget ia mendengar namanya disebut lagi setelah sekian lama.
Lohgawe tersenyum lagi “Ada apa? Mikir apa sampai panggilanku tak didengar? Melamun tentang apa?” 
“A’..aahh..hahahaha..hanya mengingat masa lalu.”
Keduanya terdiam sesaat. Mendengarkan jangkrik menyaut dan samar-samar suara konang dimainkan dari Pendopo utama di tengah desa.

“Aku pun penasaran dengan yang terjadi setelah aku pergi.
Jika boleh bertanya, siapa anak itu Ki?”
Kali ini Mbah Karuman yang tersenyum.
“Hanya anak yang malang”.
Lohgawe mengernyitkan dahi.

“Apa kau ingat Purnama paling menggetarkan sewindu yang lalu?
Malam itu seisi desa ini gempar. Beberapa pemuda berlarian ketakutan, mengabarkan bahwa ada suara lelembut di pekuburan ujung desa.”

Mata Lohgawe melebar, “Anak itu-..”
“Yaa..suara lelembut yang menggemparkan itu..hahahaha!”

Lohgawe ingat kejadian itu. Setelah mendengar kabar dari para pemuda yang ketakutan, warga desa beramai-ramai pergi ke pekuburan desa. Antara penasaran dan ketakutan, bersama-sama mencari asal muasal suara tangis yang menyayat rasa. Bukan lelembut yang ditemukan, melainkan bayi merah dengan sisa bercak darah disana-sini, dibalut kain jarit dan ditinggalkan dibawah pohon beringin. Menangis keras karena lapar dan terancam karena sebagian tubuhnya mulai dikerumuni semut dan serangga lain.

Hampir semua warga desa berjengit antara ngeri dan kasihan. Kondisi macam apa yang memaksa seseorang membuang darah dagingnya sendiri. Lohgawe percaya karma itu ada, tapi ia tak pernah mengakui adanya dosa dan tak sekalipun ia pernah menyebut seseorang sebagai pendosa. Kecuali hari itu, hari ia berhadapan dengan kejadian paling buruk yang menurutnya layak disebut sebagai dosa.

Ia ingin tahu siapa mereka. Siapa yang dengan lancangnya memaksa manusia mungil itu lahir, memaksa nyawa tak bersalah merasakan racun kefanaan, lalu membuangnya begitu saja. Jika orang tua bayi ini tak menghendaki kehadirannya karena tak mampu, maka meninggalkannya di pasar, pendopo atau rumah warga yang sepi pada malam hari adalah pilihan yang manusiawi. Seseorang mungkin akan merawatnya atau menyerahkannya pada akuwu desa untuk diangkat anak.
Alih-alih, mereka malah meninggalkan manusia kecil yang tak berdaya ini di pekuburan? Jauh dari keramaian dan jarang dilewati orang??
Tidak. Itu bukan lagi sekedar membuang. Mereka bermaksud membunuhnya, membiarkannya mati dengan jalan yang paling mengenaskan.

Setelah ditemukan, bayi tersebut dibawa ke rumah seorang petinggi desa. Dirawat sementara, dibersihkan, disusui dan diberi pakaian yang lebih hangat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kentongan ditabuh. Warga desa berkumpul untuk melacak siapa orang tua bayi ini. Tak ditemukan tanda-tanda adanya warga yang hamil tua dan telah melahirkan. Adapun yang hamil, masing-masing masih mendekap erat janin dalam kandungannya. Sungguh anak-anak yang beruntung, pikir Lohgawe saat itu. Sulit untuk tidak membandingkan antara nyawa-nyawa yang begitu didamba, dengan bayi mungil yang terbuang.

Pelaku diduga berasal dari desa atau wilayah lain. Ramai prasangka yang mengundang curiga meski tanpa bukti yang jelas. Tapi tak banyak warga yang memperhatikan penduduk wilayah lain, sulit untuk menemukan apakah ada perempuan atau keluarga yang berpotensi melakukan perbuatan keji tersebut. Lewat tengah hari tak ditemukan titik terang. Maka pembahasan dilanjutkan, bagaimana dengan masa depan anak itu?

Tak seramai sebelumnya, kali ini warga banyak yang terdiam. Lohgawe mengerti, manusia tentu punya rasa kasihan dan ingin menolong. Namun, diantara niat dan tindakan itu ada batas dinding tinggi yang bernama realita. Mengurus keluarga sendiri saja belum mampu, apalagi harus ditambah beban bayi yang tak jelas asal usulnya. Ditemukan di kuburan pula. Ia sendiri pun tak bisa berbuat banyak, tubuhnya masih lemah. ia juga bukan warga desa dan menumpang sementara pada Ki Bango Samparan, yang mata pencahariaannya tak jelas. Tak seorang pun memiliki solusi untuk masa depan bayi tersebut. Seorang pria diujung pendopo, yang sepertinya belum pulih dari sisa-sisa pengaruh minuman keras bahkan berujar bahwa mungkin bayi itu memang anak demit sehingga sebaiknya dikembalikan ke kuburan. Warga bergemuruh gumam sinis hingga seorang pemuda menarik orang mabuk  tersebut dari pendopo. Saat bayang-bayang tubuh sudah sepanjang tombak ke arah timur laut, barulah seorang perempuan berjalan mendekati akuwu desa.

“Bukankah saat itu ada seorang wanita yang menawarkan diri untuk merawatnya, Ki?”

“Iya, benar. Seorang wanita yang baik. Tapi Hyang Widhi tak memberinya nasib yang baik.”

“Maksudnya?”

“Wanita itu wanita yang baik. Seorang pencari janur yang memang mendambakan putra di usianya yang beranjak tua. Setiap ia ke lereng atau menjual janurnya di peken, Jaka selalu dibawanya kemana-mana. Sayangnya, suaminya adalah seorang pemabuk dan pencuri. Seluruh desa tahu ia adalah seorang pemabuk, seorang pria yang kasar.”

Malang datang beruntun tanpa uluk salam. Wanita itu meninggal saat Jaka baru berusia empat puluh purnama. Entah bagaimana ia bisa bertahan hidup bersama pemabuk yang tukang bikin rusuh itu. Hingga sekitar dua puluhan purnama berikutnya, semuanya terungkap. Lelaki itu berusaha mencuri ternak milik warga desa sebelah, dan tertangkap basah. Bertahun-tahun ia menjalankan aksinya, tak pernah ada yang tahu bahwa ternyata ia seorang penjahat. Ia dikurung dan dihajar selama beberapa waktu. Hingga akhirnya ia meloloskan diri. Saat kembali ke Karuman, pria itu berlari terseok-seok dan kepayahan menuju gubuk tempat tinggalnya. Warga berlarian mengikutinya. Dari luar gubuk, yang terdengar selanjutnya adalah teriakan tak beraturan. Pria itu meneriaki anak angkatnya dengan brutal. Menyampaikan dengan meledak-ledak bahwa ia adalah pembawa sial. Bahwa istrinya mati karena membawa pulang Jaka. Bahwa usahanya dan aksi pencuriannya tak lagi mulus hingga akhirnya ia ditangkap. Laki-laki biadab itu lepas kendali dan berusaha mencekik Jaka. Kali ini lebih banyak warga yang histeris dan pria-pria desa bergerak masuk melumpuhkan lelaki setengah gila itu.

“Itu kedua kalinya dalam hidup, aku memutuskan untuk bertindak tanpa memikirkan urusan apa yang mungkin akan membebaniku”, ujar Mbah Karuman menerawang.

Lohgawe diam mendengarkan.

“Pertama adalah kau, Lohgawe. Darimu aku menyadari bahwa kecemburuan terhadap kastamu adalah sia-sia. Aku lebih suka hidup bebas tak dikenal dan mati tanpa nama, asal hidup tenang.”

“Tapi padanya, rasa ibaku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku ingat kali pertama membawa Jaka ke rumah ini. Ia tak menangis meski baru saja mengalami kejadian sebrutal itu. Ia tak makan kecuali bila ku letakkan makanan tepat dihadapannya. Ia tak minum selain apa yang kutawarkan padanya. Ia tak bergerak kecuali bila kuperintah. Tubuhnya basah dengan bau tuak sisa amukan lelaki biadab itu. Ia tak berani menatap mataku, hingga aku harus merendah agar sejajar dengan tinggi badannya. Saat kumandikan, yang pertama kulihat dibalik pakaiannya adalah luka-luka dan bekas luka..”

Mbah Karuman menghela nafas berat, sesak. Pandangannya kembali menerawang jauh ke dalam bayang-bayang gelap Gunung Kawi.

“Sebagian luka masih baru. Sebagian sudah mengering. Sebagian lagi bernanah tak terawat. Bisakah kau bayangkan apa yang telah terjadi padanya di gubuk itu selama ini, Lohgawe?
.
.
Siksaan macam apa yang membuat anak sekecil itu mati rasa?? Manusia biadab itu!!…biadab.. “

Dalam temaram cahaya sentir Lohgawe menemukan mata tua yang berkaca-kaca. Ia berjingkat lebih dekat, menggenggam lengan keriput yang dulu juga menuntunnya keluar dari Alas Rubat. Kakek tua pun menimpa genggaman itu dengan tangannya sendiri.

“Bukankah ia begitu malang, Lohgawe? Karena harus diasuh oleh tangan kotor penjudi ini?”

Setengah memijat, Lohgawe menyusuri lengan gempal itu hingga ke bahu, berharap dapat memberikan kekuatan. Ia kembali tersenyum karismatik.

“Tidak. Anak itu, sudah berada di tangan yang tepat.”

***

To be continue..

| Disclaimer | Fiksi | Meminjam nama tokoh dan setting dalam Kitab Pararaton |