MANDAKALA

A Simple Woman With Complicated Mind

Evolusi Darwin atau Nabi Adam?

Malam Minggu tanpa jadwal pacaran dan deadline kerjaan adalah waktu yang tepat untuk mikirin yang bukan-bukan. Sedang asik dengerin cover lagu malah keinget detik-detik hampir jadi guru. Cuma kepikiran aja: apa jadinya kalau aku tetap jadi guru sejarah ya? Continue reading

See You When I See You, Sorabel

Aku negatif COVID, tapi dadaku benar-benar sesak. Frustasi. Sayangnya aku terlalu kuat dan tak cukup alasan untuk menangis, apalagi bunuh diri. Semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa dilakukan selain bergerak menuju tempat yang baru. Aku sedikit melankolis sejak dini hari. Rasanya jariku bergerak sendiri menulis kata-kata ini. Hebat, hampir separagraf dan belum ada yang diedit sama sekali. Tahun 2020 sudah berakhir dan aku ingin meninggalkan semua kemarahanku yang tidak pada tempatnya. Jadi untuk terakhir kalinya, aku ingin menulis ucapan selamat tinggal pada salah satu bagian hidupku yang berharga. Continue reading

Selamat Untuk Segalanya, Ayuk..

Dua ribu dua puluh adalah tahun yang berat, tapi aku senang kamu mengakhirinya dengan bahagia. Kalau tahu bakal begini jadinya, harusnya saat dia mengantarmu pulang hari itu, aku ospek dia langsung di tempat. Iya. Di depan gerbang, di pinggir jalan, di samping kuburan. Dapat dimana nyali dia? Berani-beraninya mengambil bungsu kami yang berharga. Continue reading

Mati enak kali, ya?

IYA.

Continue reading

Ramadan #1

Mbak Janah ki uripe penak tenan ya mbak ya? Iri tenan aku” Kata Hesti suatu malam, dalam panggilan video group paling tidak jelas yang kuladeni semasa WFH ini.

Continue reading

Waktu Yang Baik Untuk Menangis

Di sela waktu kerja malam ini, sempat-sempatnya aku nonton film lagi. Mungkin tidak akan buang waktu kalau yang ditonton adalah film baru atau yang sama sekali belum aku lihat. Tapi ini film lama. Bhajrangi Bhaijaan (2015). Ini ketiga kalinya kalau tidak salah. Bahkan setelah tiga kali menonton film yang sama, dengan cerita yang sama, suara, gerak dan langgam yang sama, aku masih menangis juga. Continue reading

Silent Rage

Judulnya harusnya berbahasa Indonesia karena konten tulisannya juga ditulis dalam bahasa. Tapi sampai akhir tidak ketemu juga frasa bahasa yang tepat untuk mewakili apa yang mau kutulis. Jadi yasudah. Lagipula ini tulisan curhat yang numpang lewat. Continue reading

Teori Evolusi Agama

Sekitar tahun 2013 akhir, seorang teman memosting tabel grafik berikut ini di facebook dengan mengaitkan akunku dan akun seorang teman lain dari jurusan sejarah. “Menurut kalian ini benar gak?” begitu caption statusnya. Temanku ini cukup openmind, asumsiku, pertanyaan itu memang didasarkan pada rasa ingin tahu. Aku ingat gambar yang diposting saat itu bukan versi ini, melainkan versi potongan khusus di lini European- Arctic, bagian berwarna hijau-kuning yang ada Islamnya. Continue reading

Dear Cecilia..

Tulisan ini harusnya dirilis tanggal dua puluh tujuh Januari
Mulai kutulis pagi-pagi pukul tiga dini hari.  Tapi ia tak selesai, tersingkir oleh notifikasi deadline lain yang secara otomatis jadi alarm darurat di otak. Maklum yaa, aku juga kadang mempertanyakan apakah jalan hidup ini yang paling baik, karena lebih sering justru membuatku menyingkirkan hal-hal lain yang lebih penting. Sepenting hari ulang tahunmu, misalnya. Continue reading

Radheya Karna

Bharatayuda atau Mahabharata bukan legenda, melainkan sebuah karya literasi. Pengarangnya Resi Vyasa atau Begawan Byasa. Konon, Begawan Byasa  membutuhkan seseorang yang mampu menulis dengan cepat, secepat plot cerita muncul di otaknya dan secepat rangkaian kata-kata keluar dari bibirnya. Tapi tidak satu manusia pun mampu mengimbangi kecepatan pikiran manusia lain. Maka Begawan Byasa meminta pertolongan Dewa Ganesha. Kesepakatannya, Ganesha akan menulis kisah ini dengan didikte oleh Begawan Byasa, tanpa berhenti sama sekali. Maka dimulailah penulisan kisah ini. Begawan Byasa bercerita dan Dewa Ganesha menulis dengan amat cepat. Continue reading

« Older posts

© 2021 MANDAKALA

Theme by Anders NorenUp ↑